TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan apresiasi kepada Iran setelah otoritas negara tersebut membatalkan rencana eksekusi mati terhadap ratusan demonstran yang sebelumnya ditangkap dalam penindakan unjuk rasa besar-besaran.
Trump mengungkapkan rasa terima kasihnya melalui unggahan di media sosial Truth Social, menyusul keputusan kepemimpinan Iran yang membatalkan eksekusi mati yang dijadwalkan berlangsung sehari sebelumnya.
“Saya sangat menghargai fakta bahwa semua eksekusi gantung yang dijadwalkan, yang seharusnya berlangsung kemarin (lebih dari 800 orang), telah dibatalkan oleh kepemimpinan Iran. Terima kasih!,” tulis Trump, seperti dilansir AFP, Jumat (17/1/2026).
Sebelumnya, otoritas kehakiman Iran sempat memberi sinyal akan mempercepat proses persidangan dan menjatuhkan hukuman mati terhadap para demonstran yang ditahan.
Isyarat tersebut muncul di tengah gelombang protes luas yang mengguncang berbagai wilayah Iran, meski telah mendapat peringatan dari Trump.
Kepala otoritas kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni-Ejei bahkan menekankan pentingnya tindakan cepat dalam pernyataan video yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
“Jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan, kita harus melakukannya sekarang. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” ujar Mohseni-Ejei.
“Jika terlambat, dua bulan, tiga bulan kemudian, itu tidak akan memiliki efek yang sama. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat.” tambahnya.
Namun, sikap tersebut kemudian dilunakkan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memastikan tidak akan ada demonstran yang dieksekusi mati dalam waktu dekat.
Kepastian itu disampaikan Araghchi saat wawancara dengan stasiun televisi AS Fox News.
“Saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin bahwa tidak ada rencana untuk hukuman gantung,” kata Araghchi, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (15/1/2026).
Araghchi menjelaskan bahwa rangkaian unjuk rasa yang berlangsung selama 10 hari pada awalnya berjalan damai, sebelum berubah menjadi kekerasan selama tiga hari yang menurutnya dipicu oleh pihak Israel. Ia menegaskan, situasi kini telah kembali tenang.
Gelombang demonstrasi yang melanda Iran sejak bulan lalu bermula dari protes terhadap memburuknya kondisi ekonomi. Seiring waktu, aksi tersebut berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dan secara terbuka menantang pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak Revolusi Iran 1979.
Dalam beberapa hari terakhir, demonstrasi diwarnai kerusuhan dan kekerasan. Seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian unjuk rasa tersebut.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































