TIMETODAY.ID, JAKARTA — Samsung kembali mencuri perhatian industri teknologi lewat peluncuran Galaxy Z TriFold, ponsel lipat tiga pertama yang mereka perkenalkan sebagai terobosan masa depan smartphone. Namun di balik desain futuristik dan harga premium, muncul laporan yang menyebut Samsung justru menanggung kerugian dari setiap unit yang terjual.
Informasi tersebut diungkap media Korea Selatan The Bell, yang melaporkan bahwa biaya produksi Galaxy Z TriFold lebih tinggi dibandingkan harga jualnya di pasar domestik Korea Selatan. Temuan ini memicu tanda tanya besar di kalangan analis, mengingat perangkat tersebut dipasarkan dengan harga puluhan juta rupiah.
Di Korea Selatan, Galaxy Z TriFold dijual dengan banderol sekitar 2.440 dolar AS atau setara Rp40 jutaan. Meski tergolong sangat mahal untuk sebuah ponsel, angka tersebut dinilai belum mampu menutup seluruh ongkos produksi perangkat. Kondisi ini bertolak belakang dengan strategi Samsung selama ini yang dikenal efisien dalam menekan biaya komponen demi menjaga margin keuntungan.
Pada Galaxy Z TriFold, Samsung tampaknya mengambil pendekatan berbeda. Perusahaan memilih memprioritaskan inovasi teknologi ketimbang efisiensi biaya. Perangkat ini juga tidak diposisikan sebagai produk massal. Penjualannya dilakukan secara terbatas dan hanya di sejumlah pasar tertentu.
Dalam konteks tersebut, Galaxy Z TriFold lebih berfungsi sebagai ajang pamer teknologi atau technology showcase untuk menunjukkan kapabilitas Samsung di segmen ponsel lipat. Fokus utamanya bukan pada keuntungan jangka pendek, melainkan penguatan posisi sebagai pemimpin inovasi di pasar global foldable smartphone.
Menariknya, harga Galaxy Z TriFold di luar Korea Selatan justru lebih tinggi. Di Uni Emirat Arab, misalnya, ponsel ini dijual sekitar 3.260 dolar AS. Perbedaan harga ini memunculkan dugaan adanya strategi subsidi silang, di mana harga tinggi di pasar tertentu digunakan untuk menutup sebagian kerugian dari penjualan di pasar domestik.
Strategi semacam ini lazim diterapkan pada produk eksperimental dengan volume terbatas, terutama untuk teknologi baru yang masih berada pada tahap pengenalan pasar.
Laporan The Bell juga menyoroti tantangan yang dihadapi Samsung ke depan, khususnya terkait penentuan harga seri Galaxy S26. Biaya sejumlah komponen utama disebut mengalami kenaikan signifikan, mulai dari memori, panel OLED, hingga modul kamera.
Di sisi lain, strategi penggunaan prosesor juga berpengaruh terhadap struktur biaya. Samsung diperkirakan akan kembali mengandalkan kombinasi chipset Snapdragon dari Qualcomm dan Exynos buatan sendiri. Namun, Snapdragon disebut akan mendominasi hingga sekitar 75 persen dari total produksi Galaxy S26.
Ketergantungan yang lebih besar pada Snapdragon, yang memiliki harga lebih mahal dibandingkan Exynos dengan performa setara, berpotensi menekan margin keuntungan Samsung di lini flagship reguler. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa harga penerus Galaxy S25 bisa mengalami kenaikan saat resmi diluncurkan.
Saat ini, para analis industri menantikan langkah Samsung berikutnya dalam menyeimbangkan ambisi inovasi, kenaikan biaya produksi, serta strategi harga, terutama menjelang peluncuran Galaxy S26.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































