
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki cara yang unik dalam memahami dunia di sekitarnya. Mereka kerap menangkap pesan bukan lewat kata-kata, melainkan melalui gambar dan visual. Dari pemahaman inilah, Wenny Yosselina, ilustrator sekaligus peneliti visual, mendedikasikan karya dan risetnya untuk mendukung proses belajar serta komunikasi anak-anak disabilitas.
Aktif di Kelas Buku Anak Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Art Therapy Centre (ATC) Widyatama Bandung, Wenny merancang buku-buku gambar untuk anak dengan autisme, low vision, hingga disabilitas tuli. Baginya, visual bukan sekadar ilustrasi, melainkan bahasa yang mampu menjembatani dunia anak-anak disabilitas dengan lingkungan sekitarnya.
“Berdasarkan riset, mereka justru lebih mudah mencerna informasi melalui visual. Narasi gambar bisa menjadi penghubung komunikasi yang lebih efektif dibandingkan verbal,” ujar Wenny.
Ketertarikan Wenny bermula saat menyelesaikan tugas akhir S1 di Fakultas Seni Rupa ITB pada 2016. Saat magang di tempat kursus menggambar di Bandung, ia mendampingi anak-anak berusia 7–8 tahun yang berada dalam spektrum neurodivergen. Awalnya, Wenny mengaku kesulitan membangun interaksi karena anak-anak tersebut cenderung tertutup dan sulit fokus.
Namun semuanya berubah ketika ia mengajak mereka menggambar. Melalui proses berkarya bersama, Wenny melihat bagaimana visual mampu memunculkan kepercayaan, emosi, dan keinginan anak-anak untuk berkomunikasi.
“Mereka bisa terlihat diam, tapi lewat gambar, mereka berbicara. Bahkan ada yang sangat bersemangat menyelesaikan karya demi membuat orang tuanya bangga,” kenangnya.
Seiring waktu, Wenny semakin mendalami bahasa visual yang ramah bagi anak disabilitas. Ia meneliti karakter ilustrasi yang mudah dipahami, mulai dari fokus pada satu objek, warna lembut, hingga latar belakang yang sederhana agar tidak mengganggu konsentrasi. Untuk anak dengan low vision, visual dibuat kontras dengan garis tebal agar lebih mudah dikenali.
Tak berhenti di Indonesia, kiprah Wenny membawanya ke kolaborasi internasional. Pada 2022–2023, ia terlibat dalam program Art for Goods di Singapura dan menerima hibah untuk proyek kolaboratif Adventures in the Symphony of Colours. Proyek ini melibatkan seniman lintas negara serta anak-anak neurodivergen, dengan karya visual yang mengangkat unsur budaya Indonesia seperti wayang dan batik.
Saat ini, Wenny tengah menyiapkan karya terbaru bertajuk “Tangible Tales”, sebuah media cerita berbasis teknologi 3D printing untuk membantu anak dengan autisme dalam bersosialisasi. Karya ini juga menjadi bagian dari rencana risetnya saat melanjutkan studi doktoral di luar negeri.
Bagi Wenny, dedikasi ini bukan sekadar perjalanan akademik. Ia merasa memiliki panggilan hati untuk terus berbagi hidup bersama anak-anak disabilitas.
“Mereka seperti cermin. Apa yang kita berikan dengan tulus, akan kembali dengan cara yang tulus juga. Seni bukan soal rasa kasihan, tapi ruang aman untuk semua anak berekspresi,” tutupnya.
Kontribusi Wenny turut didukung oleh Tanoto Foundation, yang tak hanya memberikan beasiswa pendidikan, tetapi juga pengembangan kapasitas kepemimpinan dan pengabdian sosial. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel






































