TIMETODAY.ID, JAKARTA — Sebuah video berdurasi 21 detik yang diunggah akun resmi White House memicu gelombang kemarahan publik. Dalam video itu, tampak petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menahan dan memborgol beberapa orang.
Namun yang membuat situasi kian kontroversial, potongan gambar tersebut diberi latar dan caption dari lirik lagu “Juno” milik penyanyi muda asal Amerika Serikat, Sabrina Carpenter.
“Have you ever tried this one? Bye-bye.”
“Pernahkah Anda mencoba yang ini? Sampai jumpa.” Terjemahannya.
Penggunaan potongan lirik itu untuk mengiringi penangkapan imigran langsung memancing reaksi keras dari sang pemilik lagu. Bagi Sabrina Carpenter, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi juga dianggap mendukung kebijakan yang tidak manusiawi.
Tak butuh waktu lama, ia meluapkan kemarahannya melalui akun media sosial X miliknya. Dengan nada tegas, ia menolak keterlibatan karyanya dalam narasi deportasi massal yang sedang dijalankan pemerintahan Donald Trump.
“This video is evil and disgusting. Do not ever involve me or my music to benefit your inhumane agenda,” tulis Sabrina.
“Video ini jahat dan menjijikkan. Jangan pernah melibatkan saya atau musik saya untuk kepentingan agenda Anda yang tidak manusiawi.” Terjemahannya.
Kemarahan Sabrina merepresentasikan kegelisahan banyak pihak. Di saat kebijakan penangkapan imigran besar-besaran menuai kecaman dari aktivis kemanusiaan dan pendukung imigran, penggunaan musik pop populer justru dinilai memperburuk situasi.
Alih-alih menjadi hiburan, karya seni digunakan sebagai alat propaganda yang menyudutkan kelompok rentan.
Namun dari pihak Gedung Putih, respons yang muncul justru tak menunjukkan penyesalan. Juru bicara White House, Abigail Jackson, memberikan jawaban tegas.
Pemerintahan Trump menegaskan tidak akan meminta maaf atas kebijakan deportasi yang mereka anggap sebagai tindakan terhadap kriminal, serta menyatakan tetap akan membela langkah penangkapan massal tersebut.
Sikap keras dari dua kubu ini pun mengundang sorotan luas. Publik tak hanya memperbincangkan soal hak cipta, tetapi juga etika penggunaan karya seni dalam agenda politik dan sosial.
Bagi Sabrina Carpenter, musik adalah ruang ekspresi, kebebasan, dan hiburan—bukan alat untuk menggiring opini publik dengan narasi yang melukai kelompok tertentu.
Penolakan Sabrina ternyata bukan kasus tunggal. Sebelumnya, sejumlah musisi papan atas juga menentang keras penggunaan karya mereka dalam kampanye atau kebijakan kontroversial.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa di tengah panasnya tarik-menarik politik, seni masih terus diperjuangkan agar tetap berdiri sebagai suara kemanusiaan—bukan alat kekuasaan.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































