Kritik Publik Berbuah Hasil, Oxford Akui Kontribusi Tim Peneliti Indonesia

Oxford
penemuan rafflesia hasseltii. Foto: Instagram

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Guyuran kritik dari jagat maya akhirnya berbuah hasil. Setelah sempat menjadi sorotan publik karena tak menyebut satu pun nama peneliti lokal dalam postingan ilmiah mereka, pihak Oxford University kini resmi mencantumkan nama peneliti Indonesia yang turut terlibat dalam penemuan Rafflesia hasseltii—bunga langka yang kembali mekar di jantung hutan Sumatra Barat.

Sebelumnya, unggahan Oxford mengenai temuan Rafflesia hasseltii memicu reaksi keras di media sosial. Banyak warga Indonesia menilai kontribusi peneliti lokal terabaikan, seolah temuan besar ini hanya milik institusi luar negeri.

Gelombang protes makin membesar ketika nama-nama peneliti Indonesia tak muncul sama sekali, padahal riset dilakukan di tanah mereka sendiri.

Advertisement

Dari linimasa X hingga Instagram, amarah dan kekecewaan publik mengalir deras. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, bahkan ikut bersuara lantang. Menurutnya, kontribusi ilmuwan Indonesia tak boleh diposisikan sebagai pelengkap.

Ia menegaskan, ilmuwan Indonesia bukan figuran—kalimat yang kemudian menjadi gema solidaritas selama berhari-hari.

Menariknya, peneliti Oxford yang turun langsung ke lapangan, Chris Thorogood, justru sejak awal memberikan pengakuan lengkap di akun pribadinya.

Baca Juga :  Mahasiswa Sebut Pilkada Dipilih DPRD Berpotensi Timbulkan Apatisme Publik

Nama Septian Andriki, pemandu lokal Iswandi, serta pendukung riset lainnya disebut secara jelas. Kontras inilah yang membuat publik mempertanyakan komunikasi resmi Oxford.

Akhirnya, pada Jumat (28/11/2025), Oxford mengunggah pernyataan terbaru yang menyertakan deretan nama ilmuwan Indonesia yang terlibat dalam ekspedisi.

“Minggu lalu, Chris Thorogood bekerja sama dengan pahlawan konservasi lokal Septian (Deki) Andriki dan pemandu lokal mereka Iswandi untuk melihat Rafflesia hasseltii di Sumatra,” tulis mereka dalam unggahan pembaruan.

Unggahan itu turut mencantumkan apresiasi kepada rekan peneliti lain yang turut membantu perjalanan panjang tersebut.

“Ekspedisi mereka didukung oleh Joko Witono dan Agus Susaty, yang bimbingannya membantu mewujudkan perjalanan ini. Melihat bunga ini mekar merupakan pencapaian tim yang luar biasa,” lanjut pernyataan itu.

Rafflesia hasseltii kembali mekar di Hiring Batang Sumi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatra Barat—wilayah hutan hujan tropis yang lembap, terpencil, dan dikenal sebagai habitat harimau.

Baca Juga :  Perkuat Perlindungan Sosial, Pemkab Bogor Beri Jaminan bagi Pekerja Rentan dan Marbot

Butuh penantian hingga 13 tahun untuk menyaksikan paras bunga raksasa ini kembali terbuka. Sebuah momen yang tidak hanya ilmiah, namun emosional bagi mereka yang terlibat.

Thorogood menyebut saat bunga itu mekar sebagai pengalaman yang mengubah hidupnya selama ekspedisi panjang di Sumatra.

Dalam video yang viral di media sosial, Septian Andriki terlihat menangis haru. Air matanya jatuh persis ketika kelopak bunga langka itu terbuka di tengah malam—momen yang ia kejar siang dan malam bersama tim, menembus jalur hutan yang hanya boleh diakses untuk kepentingan penelitian dan konservasi.

Di balik kontroversi, penemuan ini akhirnya tak hanya menghadirkan sains dan fakta, tapi juga pengakuan.

Bahwa riset besar tak pernah lahir dari satu tangan saja. Ada keringat peneliti lokal, langkah yang menapaki tanah sendiri, pengetahuan warga hutan, dan kesabaran panjang yang akhirnya dihargai.

Dan setelah badai kritik mereda, satu hal menjadi jelas:
Indonesia bukan sekadar lokasi penelitian—tapi rumah ilmu pengetahuan itu sendiri.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel