TIMETODAY.ID, JAKARTA – Rupiah kembali menunjukkan sinyal penguatan di awal pekan. Pada perdagangan pasar spot Senin (24/11/2025), nilai tukar rupiah dibuka di level Rp16.711 per dolar AS, menguat tipis sebesar 5 poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Meski kenaikan tersebut terlihat kecil, pergerakan ini dianggap sebagai indikasi bahwa pelaku pasar mulai melihat stabilisasi setelah beberapa pekan terakhir dipenuhi tekanan global.
Penguatan ini terjadi di tengah kondisi pasar Asia yang cenderung bergerak tidak seragam. Sejumlah mata uang di kawasan melemah, sementara sebagian lainnya bergerak stagnan. Sentimen pasar yang masih rapuh membuat investor cenderung lebih selektif dalam menempatkan asetnya.
1. Won Korea melemah paling dalam di Asia
Dari jajaran mata uang utama kawasan Asia, won Korea tercatat mengalami pelemahan paling dalam, yaitu sebesar 2,15 persen. Ini menjadi sorotan pasar karena volatilitas won sering kali memengaruhi arus modal di kawasan.
Adapun pergerakan mata uang Asia lainnya sebagai berikut:
- Ringgit Malaysia menguat 0,01%
- Bath Thailand melemah 0,07%
- Rupee India melemah 0,79%
- Won Korea melemah 2,15%
- Peso Filipina melemah 0,08%
- Dolar Taiwan melemah 0,01%
Pergerakan variatif tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menantikan arah yang lebih jelas dari kondisi ekonomi global, terutama terkait kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
2. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dorong peluang penguatan rupiah
Menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, peluang penguatan rupiah pada pekan ini masih terbuka cukup lebar. Ia menilai membaiknya sentimen pasar global menjadi salah satu faktor pendorong utama.
Kekhawatiran mengenai potensi bubble teknologi AI yang sempat membebani pasar kini mulai mereda. Hal itu membuat investor kembali berani masuk ke aset negara berkembang. Selain itu, komentar bernada dovish dari pejabat Federal Reserve, William, memberi sinyal bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember sangat mungkin terjadi.
“Sentimen eksternal mulai pulih… meningkatnya harapan pemangkasan suku bunga oleh The Fed,” ujar Lukman.
Dengan ekspektasi penurunan suku bunga, dolar AS berpotensi melemah sehingga memberikan ruang bagi mata uang lainnya, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
3. Tantangan tetap ada, geopolitik Asia jadi tekanan tambahan
Namun, optimisme tersebut bukan tanpa catatan. Lukman mengingatkan bahwa sentimen pasar masih rentan terhadap kejutan eksternal, terutama dari kondisi geopolitik Asia Timur. Meningkatnya tensi antara China dan Jepang dinilai dapat menahan minat investor terhadap aset berisiko di kawasan, termasuk rupiah.
Kondisi global yang belum stabil membuat ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas. Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksi bergerak dalam kisaran Rp16.660 hingga Rp16.750 per dolar AS.
Meski demikian, penguatan tipis di awal pekan memberikan harapan bahwa tekanan terhadap rupiah mulai mereda, setidaknya untuk jangka pendek. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































