
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Infeksi pneumokokus mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tapi dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Bakteri ini bisa menyebabkan berbagai penyakit serius, mulai dari infeksi darah, radang selaput otak, hingga pneumonia yang membuat penderitanya kesulitan bernapas.
Salah satu bentuk paling umum adalah pneumonia pneumokokus kondisi ketika kantung udara di paru-paru terisi cairan atau nanah sehingga membuat tubuh terasa lemah dan napas menjadi pendek. Pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, serta orang dengan sistem imun rendah, infeksi ini bisa mengancam jiwa.
Karena itulah vaksin pneumokokus hadir sebagai perlindungan penting. Vaksin ini membantu menurunkan risiko infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus dan mencegah komplikasi yang berbahaya.
1. Apa itu pneumonia pneumokokus?
Pneumonia pneumokokus merupakan salah satu penyebab tersering pneumonia yang terjadi di luar rumah sakit. Penyebabnya adalah bakteri Streptococcus pneumoniae yang menyebar melalui batuk, bersin, air liur, atau kontak dekat.
Infeksi ini juga bisa muncul beriringan dengan penyakit lain, misalnya flu atau COVID-19. Saat tubuh sudah lemah, bakteri lebih mudah mengambil alih dan menyerang paru-paru.
Ketika infeksi memburuk, paru-paru terisi cairan sehingga muncul gejala seperti:
- batuk,
- demam,
- nyeri dada,
- menggigil,
- napas cepat atau sesak.
Tidak hanya pneumonia, bakteri ini juga bisa menyebabkan sinusitis, infeksi telinga, hingga kondisi berat seperti meningitis dan bakteremia keduanya bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
2. Jenis vaksin pneumonia
Ada dua jenis vaksin untuk melindungi tubuh dari infeksi pneumokokus:
1. Polysaccharide conjugate vaccine (PCV)
Direkomendasikan untuk anak-anak, lansia, dan orang berisiko tinggi. Varian yang tersedia antara lain PCV13, PCV15, dan PCV20.
2. Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPSV)
Melindungi terhadap 23 jenis bakteri pneumokokus dan umumnya diberikan pada orang berisiko tinggi dan usia 65 tahun ke atas.
3. Pentingnya vaksinasi pneumokokus
Meski banyak ditemukan pada anak, risiko terbesar justru dialami oleh lansia. Pada usia ini, infeksi bisa berkembang cepat menjadi penyakit invasif kondisi ketika bakteri masuk ke area steril seperti darah dan menyebabkan infeksi berat.
Vaksinasi membantu:
- mencegah bentuk infeksi berat,
- mengurangi risiko rawat inap,
- menurunkan angka kematian akibat penyakit pneumokokus.
Vaksin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu memutus rantai penularan di masyarakat.
4. Siapa yang perlu mendapatkan vaksin pneumonia?
Rekomendasi vaksin diberikan kepada:
- Usia 50 tahun ke atas
Sistem imun menurun seiring bertambah usia. - Anak-anak di bawah 5 tahun
- Dewasa usia 19–49 tahun dengan imun lemah
- Penderita penyakit kronis
Termasuk diabetes, penyakit jantung, asma, PPOK, anemia sel sabit, dan penyakit hati kronis. - Penerima kemoterapi, transplantasi, atau penderita HIV/AIDS
- Perokok dan peminum alkohol berat
- Orang yang baru pulih dari operasi besar atau sakit parah
5. Siapa yang tidak boleh menerima vaksin?
Vaksin pneumonia sebaiknya ditunda atau dihindari oleh orang yang:
- memiliki riwayat alergi berat terhadap vaksin ini atau komponennya,
- sedang sakit atau tidak enak badan.
6. Perlukah booster meski sudah divaksin?
Beberapa orang mungkin memerlukan dosis tambahan seiring melemahnya respons imun. Kebutuhan booster ini ditentukan oleh dokter berdasarkan usia, riwayat vaksin, dan kondisi medis.
7. Manfaat vaksinasi pneumokokus
Vaksin pneumonia memberikan berbagai keuntungan, seperti:
- Menekan biaya kesehatan
Lebih sedikit kunjungan rumah sakit, lebih sedikit kebutuhan obat. - Meningkatkan kualitas hidup
Risiko sakit berat berkurang, aktivitas sehari-hari tetap lancar. - Meningkatkan produktivitas
Orang dewasa lebih jarang absen bekerja, caregiver tidak terlalu terbebani. - Perlindungan komunitas
Mengurangi penyebaran bakteri dan memperlambat resistansi antibiotik. - Memberikan ketenangan pikiran
Risiko sakit berat berkurang, rasa cemas juga ikut mereda.(MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































