
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Provinsi Jawa Barat kembali menghadapi pekerjaan rumah besar di sektor kesehatan. Dalam sebuah audiensi antara Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Oktavianus (dr. Benny), dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Gedung Sate, terungkap situasi yang cukup memprihatinkan: lebih dari 81 ribu kasus tuberkulosis (TBC) teridentifikasi hanya dalam lima bulan pertama tahun 2025.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Dari estimasi 234 ribu kasus TBC yang diproyeksikan berada di Jawa Barat, temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara jumlah kasus nyata dan yang berhasil terdeteksi. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan TBC masih memerlukan upaya kolaboratif yang lebih kuat.
Dorongan untuk Deteksi Dini dan Hilangkan Stigma
Dalam pertemuan tersebut, dr. Benny menekankan bahwa percepatan penanganan TBC bertumpu pada penemuan kasus aktif di masyarakat. Ia menyoroti perlunya memperkuat penggunaan mobile X-ray, tes cepat molekuler (TCM), serta melawan stigma yang masih membayangi pasien TBC dan kusta dua isu yang kerap membuat masyarakat enggan memeriksakan diri.
Dari sisi pemerintah daerah, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh langkah Kementerian Kesehatan. Ia bahkan mengundang Wamenkes untuk ikut turun langsung melihat kondisi lapangan, memastikan penanganan TBC dilakukan secara terukur dan menyentuh masyarakat secara menyeluruh.
Tantangan Pengobatan dan Beban Penyakit yang Kian Kompleks
Meski deteksi meningkat, tingkat keberhasilan pengobatan masih jauh dari target. Untuk TBC sensitif obat, Jawa Barat baru mencapai angka 80 persen, sedikit di bawah target nasional yang ditetapkan sebesar 90 persen. Situasinya lebih berat pada TBC resistan obat, di mana baru 1.063 kasus yang tertangani dari target 2.866 pasien.
Kompleksitas penanganan semakin bertambah karena banyak pasien memiliki penyakit penyerta. Tercatat 4.763 pasien TBC juga mengidap diabetes melitus, sementara 1.165 pasien lainnya hidup dengan HIV. Kondisi ini membuat proses pengobatan lebih panjang dan membutuhkan pendekatan yang lebih intensif.
Tak hanya itu, catatan kematian akibat TBC di Jawa Barat mencapai 2.294 jiwa, menjadikannya salah satu penyakit yang masih memerlukan perhatian serius.
Pentingnya Peran Komunitas
Upaya eliminasi TBC tidak hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan. Penguatan edukasi di komunitas, puskesmas, serta pelibatan kader kesehatan menjadi langkah penting dalam menghapus stigma dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini.
Dengan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, harapannya Jawa Barat dapat mempercepat langkah menuju eliminasi TBC dan mengurangi beban penyakit yang selama ini membayangi. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































