TIMETODAY.ID, JAKARTA – Langit di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki kembali memutih. Gunung yang berdiri megah di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, itu menunjukkan aktivitas tinggi dalam dua hari terakhir. Asap tebal menjulang tinggi, sementara warga di lerengnya bergegas menjauh, meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati.
Erupsi pertama terjadi pada Selasa malam, 14 Oktober 2025, sekitar pukul 23.37 WITA. Dentuman keras terdengar hingga beberapa kilometer jauhnya. Kolom abu membumbung hingga 9.000 meter di atas puncak setara lebih dari 10 ribu meter dari permukaan laut.
Belum genap sehari, gunung itu kembali erupsi dua kali pada Rabu (15/10), masing-masing pukul 01.35 WITA dan 09.21 WITA. Kolom abu mencapai 8 hingga 10 kilometer, menutupi langit dan memaksa warga di sekitar Desa Boru menutup hidung dengan kain basah.
“Suara gemuruhnya seperti petir tak berhenti,” kata Maria, warga Boru yang kini mengungsi di posko darurat. “Kami hanya sempat membawa pakaian dan dokumen penting.”
Ribuan Warga Mengungsi
Data dari BPBD Flores Timur mencatat, sedikitnya 7.959 warga telah mengungsi dari enam desa, di antaranya Hokeng Jaya, Nawakote, Dulipali, Nobo, Klantanlo, dan Boru. Mereka kini menempati hunian sementara dan posko pengungsian, sebagian lainnya menumpang di rumah kerabat.
Pemerintah daerah tengah menyiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) tahap keempat untuk menampung warga yang masih bertahan di posko. “Kami berusaha agar warga tetap nyaman dan kebutuhan dasar terpenuhi,” ujar Kepala BPBD Flores Timur, Yosef Tukan.
Status Awas, Bandara Ditutup
Badan Geologi Kementerian ESDM telah menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki ke Level IV (Awas) tingkat tertinggi dalam sistem peringatan gunung api di Indonesia. Warga diminta menjauh minimal 6–7 kilometer dari kawah, terutama karena ancaman lahar hujan yang bisa datang sewaktu-waktu.
Sementara itu, Bandara Fransiskus Xaverius Seda di Maumere ditutup sementara hingga Kamis untuk menghindari gangguan penerbangan akibat abu vulkanik.
Gunung yang Tak Pernah Benar-Benar Tenang
Gunung Lewotobi Laki-laki dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Nusa Tenggara Timur. Sejak letusan pertama yang tercatat pada tahun 1861, gunung ini sudah 23 kali meletus.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitasnya meningkat tajam:
- November 2024: Letusan menewaskan 10 orang dan merusak ribuan rumah.
- Januari & Juni 2024: Erupsi disertai lava pijar, status meningkat ke Level IV.
- Juli & Agustus 2025: Abu vulkanik mengganggu penerbangan hingga ke Bali.
- Oktober 2025: Tiga kali erupsi hanya dalam dua hari.
“Lewotobi Laki-laki adalah gunung yang hidup, dan saat ini sedang berada di fase paling aktif,” ujar ahli vulkanologi dari PVMBG, Sigit Prabowo. “Potensi erupsi susulan masih tinggi, jadi warga perlu tetap waspada namun tidak panik.”
Kekuatan Alam dan Keteguhan Warga
Lewotobi Laki-laki berdiri di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), kawasan rawan gempa dan letusan gunung berapi yang membentang dari Jepang hingga Indonesia. Dari sekitar 120 gunung api aktif di negeri ini, Lewotobi menjadi salah satu yang paling sering bergejolak.
Namun di balik ancaman itu, ada pula kisah keteguhan warga yang terus berusaha bertahan. “Kami sudah terbiasa hidup di kaki gunung,” kata Yosefa, seorang ibu dua anak. “Yang penting, kami tetap waspada dan saling membantu.”
Bagi warga Flores Timur, letusan Lewotobi bukan hanya peringatan tentang kekuatan alam, tetapi juga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan kebersamaan di tengah bencana. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : popbela.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































