Banjir Besar Renggut 64 Nyawa di Meksiko, Ribuan Warga Masih Terjebak

Meksiko
kendaraan yang rusak kerena terendam lumpur setelah banjir besar di meksiko Minggu, 12 Oktober 2025. (foto: AP/AP)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Senin (13/10/2025) menjadi hari yang panjang di Meksiko. Di tengah kepungan air bah dan lumpur tebal, tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk menjangkau ribuan warga yang terjebak di daerah-daerah terisolasi.

Hujan deras selama sepekan terakhir telah menenggelamkan sejumlah wilayah di bagian tengah dan timur negeri itu — mengubah jalanan menjadi sungai, memutus jembatan, dan meruntuhkan infrastruktur penting.

Sedikitnya 64 orang dilaporkan tewas, sementara 65 lainnya masih hilang. Angka itu, menurut otoritas, bisa terus bertambah.

Advertisement

Lumpur, Lapar, dan Pencarian yang Tak Usai

Hingga Senin sore, beberapa komunitas kecil masih terisolasi total. Jalanan yang tertimbun lumpur membuat bantuan sulit masuk. Di beberapa titik, warga berinisiatif membersihkan jalan sendiri agar pasokan makanan dan air bersih bisa segera tiba.

Di Hidalgo, salah satu wilayah yang paling parah terdampak, Marco Mendoza (35) berjalan kaki sejauh dua setengah jam menembus lumpur demi mencari makanan.

“Kami berjalan dua setengah jam melewati lumpur. Semua hancur; kami tidak punya persediaan atau makanan sama sekali,” ujarnya lirih.

Sementara itu, Francisco Hernandez (63), petani dari El Texme, mengaku desanya terjebak total setelah sungai di wilayahnya meluap. Tidak ada listrik, tidak ada akses keluar — hanya suara deras air yang terus mengalir.

Baca Juga :  Kakak Adik di Jaksel Nekat Bunuh Wanita Hamil, Polisi Ungkap Motifnya

Negara Dikerahkan untuk Menyelamatkan Warganya

Presiden Claudia Sheinbaum bergerak cepat. Ia mengumumkan pengerahan sekitar 10.000 tentara untuk membantu operasi penyelamatan, lengkap dengan perahu, pesawat, dan helikopter.

“Banyak penerbangan dibutuhkan untuk mengirimkan cukup makanan dan air,” kata Sheinbaum kepada wartawan.

Kepala otoritas pertahanan sipil, Laura Velazquez, menambahkan bahwa Veracruz, Hidalgo, dan Puebla menjadi wilayah paling terdampak.

Di Hidalgo saja, 43 orang masih hilang, dan jumlah korban tewas melonjak tajam dari 47 menjadi 64 hanya dalam waktu 12 jam.
Lonjakan itu menunjukkan betapa cepatnya bencana ini berkembang.

Ketika Langit Tak Henti Menumpahkan Air

Meksiko tahun ini mengalami curah hujan ekstrem. Bahkan di ibu kota, Mexico City, tercatat hujan dengan intensitas tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Musim hujan yang biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober kali ini berubah menjadi bencana panjang.

Baca Juga :  22 Ribu Warga Terdampak Banjir Semarang, BNPB Tambah Armada Modifikasi Cuaca

Para ahli meteorologi menjelaskan, kombinasi sistem tropis dari Teluk Meksiko dan front dingin dari utara menciptakan kondisi cuaca yang tidak biasa — hujan turun hampir tanpa jeda, membanjiri kota-kota dan desa-desa.

Peringatan Dini dan Tudingan Publik

Pemerintah memerintahkan evakuasi di sejumlah daerah pesisir Veracruz. Namun di wilayah pegunungan, ancaman lain muncul: tanah longsor yang terus terjadi akibat curah hujan tinggi.
Di tengah situasi genting, sebagian pihak menuding pemerintah gagal memberi peringatan dini.

Namun, Presiden Sheinbaum menepis tudingan itu.
“Situasi ini sulit diprediksi karena melibatkan berbagai fenomena cuaca yang kompleks,” tegasnya.

Harapan di Tengah Lumpur

Pada Minggu (12/10/2025), langit akhirnya mulai cerah di beberapa wilayah. Cahaya matahari yang menembus awan membawa sedikit harapan. Alat-alat berat pun dikerahkan untuk membersihkan puing dan lumpur dari jalan utama.

Namun bagi banyak warga Meksiko, jalan menuju pemulihan masih panjang.
Banjir ini bukan sekadar bencana alam tapi juga ujian ketahanan, solidaritas, dan kesabaran bagi mereka yang kini harus membangun ulang hidup dari sisa-sisa rumah yang terkubur lumpur.***

Editor : Syafira

Sumber : beritasatu.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel