Kenali Sadfishing, Saat Curhatan di Media Sosial Jadi Pancingan Simpati

media sosial
ilustrasi Sadfishing (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di era digital, wajar jika orang menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi perasaan. Ada yang sekadar curhat lelah setelah kerja, ada juga yang bercerita tentang patah hati.

Namun, belakangan muncul fenomena sadfishing kebiasaan membagikan kisah sedih atau masalah pribadi secara berlebihan demi mendapatkan perhatian.

Sekilas, terlihat seperti curhat biasa. Tapi jika dilakukan terus-menerus, sadfishing bisa berdampak pada kesehatan mental pelaku maupun orang di sekitarnya.

Advertisement

Ciri-Ciri Sadfishing

Bagaimana membedakan sadfishing dengan curhat tulus? Berikut tanda-tanda yang sering muncul:

  1. Curhat berlebihan
    Status sedih atau foto menangis muncul hampir setiap hari, dengan kalimat seperti “Rasanya nggak kuat lagi…” tanpa penjelasan.
  2. Mencari simpati
    Unggahan sengaja dibuat dramatis agar mengundang komentar, misalnya “Tidak ada yang peduli sama aku.”
  3. Minim solusi
    Hanya menceritakan masalah, tanpa berbagi langkah untuk mengatasinya.
  4. Membuat orang lain lelah
    Teman atau followers bisa merasa bingung atau jenuh jika terus diminta memberi perhatian.
  5. Tak selalu sesuai realita
    Kadang masalah dilebih-lebihkan, meski bisa juga jadi tanda ada isu mental yang lebih serius.
Baca Juga :  Aman Berlari hingga Marathon, Tips Jaga Jantung Tetap Prima

Dampak yang Sering Terjadi

  • Bagi pelaku, sadfishing bisa menimbulkan kekecewaan ketika tak mendapat respon yang diharapkan, bahkan memperparah depresi atau kecemasan.
  • Bagi orang sekitar, terlalu sering terpapar curhat dramatis bisa bikin lelah, menjauh, atau malah salah paham.
  • Di ranah digital, sadfishing bisa memicu komentar negatif hingga cyberbullying.

Cara Menyikapi dengan Bijak

Jika menemukan orang terdekat menunjukkan tanda-tanda sadfishing, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Beri perhatian secukupnya, lalu arahkan untuk berbicara lebih pribadi.
  • Hindari menghakimi. Tanyakan dengan lembut apa yang sebenarnya dirasakan.
  • Sarankan mencari bantuan profesional, seperti konselor atau psikolog, bila masalah terasa berat.
  • Batasi waktu bersosial media untuk mengurangi tekanan.
  • Edukasi soal cara curhat yang sehat: pilih orang yang tepat, waktu yang tepat, dan tujuan yang jelas.
Baca Juga :  Akun TikTok hingga Roblox Anak di Bawah 16 Tahun Akan Dibatasi Mulai Akhir Maret

Intinya

Sadfishing bukan sekadar “drama di medsos.” Kadang, ini adalah sinyal adanya masalah mental yang butuh ditangani dengan serius.

Memberi dukungan secukupnya, menjaga batasan, dan mengarahkan pada bantuan yang tepat akan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menuliskan komentar simpati.***

Editor : Syafira

Sumber : alodokter.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel