Demam Urbex di China: Menjelajah Bangunan Mangkrak di Tengah Krisis Properti

urbex
ilustrasi tempat terbengkalain (istockphoto)
TIMETODAY.ID — Hobi penjelajahan urban atau urban exploration—sering disingkat urbex—telah lama digemari di negara-negara Barat. Kini, tren ini mulai merambah ke China, seiring banyaknya gedung-gedung terbengkalai akibat krisis sektor properti yang terus berkepanjangan.
Urbex sendiri adalah aktivitas menjelajahi gedung kosong, rusak, hingga proyek raksasa yang tak kunjung rampung. Meski sering dilakukan diam-diam, aktivitas ini tetap memikat banyak pencari sensasi.
Xu, seorang pekerja teknologi berusia 29 tahun dari Qingdao, salah satunya. Lewat foto-foto sekolah tua dan bioskop usang yang ia abadikan, Xu berhasil mengumpulkan ratusan ribu pengikut di media sosial.
“Saat orang melihat foto-foto ini, mereka merasa segar dan penasaran,” kata Xu kepada AFP, dikutip France24.
“Kesadaran bahwa begitu banyak bangunan terbengkalai bisa difoto seindah ini membuat orang tertarik secara alami,” lanjutnya.
Suatu kali, Xu bersama rekan-rekannya menjejakkan kaki ke sebuah hotel kosong di pinggiran Shanghai. Dari luar, bangunan itu mirip istana kuno.
Namun begitu masuk, sisa-sisa masa lalu tampak jelas: meja mahjong, seprai kusam, piring makan berserakan. Di salah satu dinding aula dansa, coretan “Hidup Ketua Mao” masih menyisa di antara debu.
Proyek Gagal, Lokasi Emas bagi Urbexer
Mandeknya sektor properti China membuka banyak ‘lahan bermain’ bagi para penjelajah urban. Menurut Brin Connal, penjelajah asal Inggris, fenomena ini sulit ditemukan di Eropa.
“Di China, banyak sekali proyek besar yang mangkrak di tengah jalan,” ujarnya.
Salah satu contohnya adalah Pentagon Mall di Shanghai. Mal raksasa di Distrik Pudong ini nyaris rampung pada 2009, sebelum akhirnya investasi ambruk. Kini, bangunan beton itu berdiri separuh rusak, ubin pecah berserakan, dan peta lantai tertutup debu tebal.
Menariknya, tempat-tempat seperti ini menjadi arena komunitas bagi para urbexer lokal. Pesan-pesan saling menyemangati kerap tertinggal di dinding lantai atas.
“Menurut saya, inilah yang unik dari urbex di China,” kata Sean, penjelajah dari Shanghai. “Ada rasa kebersamaan yang sangat kuat dan terbuka.”
Risiko Tinggi di Balik Foto Estetik
Meski hasil foto kerap tampak memesona, kegiatan ini bukannya tanpa risiko. Platform media sosial Tiongkok, seperti Xiaohongshu, kini memasang peringatan bagi siapa pun yang mencari bangunan terbengkalai.
“Beberapa tempat memang terlalu berbahaya, ada yang dipenuhi orang,” ujar Connal.
Xu pun mengakui, ancaman keamanan selalu mengintai. Mulai dari penjaga properti yang siap menegur, jalur listrik berbahaya, bangunan rapuh, hingga paku-paku sisa konstruksi.
Tak hanya itu, secara hukum urbex berada di wilayah abu-abu. Banyak penjelajah memegang prinsip “take nothing but pictures, leave nothing but footprints”. Namun, menerobos area pribadi tetap bisa berbuntut sanksi denda.
“Risikonya macam-macam,” tutup Xu. “Mulai dari masuk tanpa izin, penjaga keamanan, sampai kondisi bangunan yang bisa mencederai kita.”
Di balik setiap foto estetik, tersimpan keberanian, rasa ingin tahu, dan secuil kenekatan. Begitulah dunia urbex di China, lahir dari keruntuhan beton dan mimpi properti yang belum selesai.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Resep Tengkleng Sapi Khas Solo, Kuah Gurih dan Daging Empuk

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel