Penggunaan AI dalam Persenjataan Picu Kekhawatiran, Pakar Serukan Dialog AS–China

AI
Teknologi Kecerdasan Buatan AI. Foto: iStock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) dan China dinilai perlu segera membatasi penggunaan kecerdasan buatan (AI), termasuk di sektor pertahanan, demi meredam ketegangan dan membuka kembali ruang dialog di tengah persaingan teknologi yang kian tajam.

Seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam sistem persenjataan, para pakar memperingatkan risiko etika, akuntabilitas, serta potensi eskalasi rivalitas antara dua kekuatan besar tersebut.

Peneliti dari Pusat Keamanan Internasional dan Strategi Universitas Tsinghua, Sun Chenghao, memandang regulasi AI di bidang militer dapat menjadi pintu masuk kerja sama baru antara AS dan China, meski hubungan keduanya masih memanas. Ia menekankan pentingnya peran negara besar dalam pembentukan aturan global.

Advertisement
Baca Juga :  Jensen Huang Tanggapi DeepSeek: Investor Terlalu Panik!

“Keterlibatan aktif negara-negara besar dalam tata kelola adalah dasar bagi negara-negara Global South untuk ikut berpartisipasi. Namun, ketegangan antara China dan AS, dua negara yang memimpin pengembangan AI membuat kerja sama tata kelola AI yang efektif menjadi sulit secara logika,” ujarnya, dikutip dari SCMP, Rabu (19/11/2025).

Dorongan serupa juga disampaikan Zhang Tuosheng, anggota Komite Akademik di CISS Universitas Tsinghua. Ia meminta kedua negara kembali melanjutkan dialog antarpemerintah terkait AI, termasuk penggunaan teknologi dalam perangkat militer.

Zhang menyebut diskusi tersebut penting untuk menindaklanjuti kesepakatan yang pernah disampaikan oleh para pemimpin kedua negara tahun lalu.

AS dan China sebelumnya menggelar dialog pertama mengenai AI pada Mei tahun lalu, membahas berbagai risiko dan langkah mitigasi. Namun hingga kini belum ada pertemuan lanjutan.

Baca Juga :  Baru Diumumkan Trump, Gencatan Senjata Israel-Lebanon Langsung Dilanggar

Dalam pertemuan di Lima, Peru, Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Joe Biden sepakat bahwa keputusan terkait penggunaan senjata nuklir harus tetap berada di tangan manusia, bukan AI.

Meski ada titik temu, pandangan kedua negara masih berbeda jauh. China menolak menandatangani pakta non-mengikat soal penggunaan AI secara bertanggung jawab di sektor militer pada KTT Seoul, September 2024.

Sementara AS terus memperketat ekspor teknologi, termasuk chip AI kelas atas, karena khawatir akan dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan militer China.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel