TIMETODAY.ID — Di China, fenomena mobil bekas nol kilometer masih marak terjadi. Banyak konsumen tergoda karena harganya yang lebih murah dibanding mobil baru. Namun, muncul pertanyaan: apakah pembelian mobil jenis ini benar-benar aman?
Mengutip laporan Carnewschina, mobil bekas nol kilometer merujuk pada kendaraan yang telah terdaftar secara resmi, tetapi belum pernah digunakan di jalan. Mobil-mobil ini kini membanjiri pasar mobil bekas di negeri Tirai Bambu.
Fenomena ini berakar dari praktik di mana kendaraan baru didaftarkan sebagai unit terjual — biasanya ke dealer rekanan atau platform pihak ketiga — lalu dijual kembali sebagai mobil bekas, meskipun jarak tempuhnya hampir nol. “Manuver ini memiliki banyak tujuan: membantu produsen mobil mencapai target penjualan, memungkinkan dealer untuk melepas stok yang tidak terjual, dan, dalam beberapa kasus, memanfaatkan subsidi atau kebijakan ekspor yang terkait dengan status registrasi kendaraan,” tulis Carnewschina.
Harga Lebih Murah, Tapi Ada Risiko Tersembunyi
Salah satu daya tarik mobil bekas nol kilometer tentu pada harga yang jauh lebih miring. Sebagai contoh, Nio ET5T produksi 2024 dengan harga baru 298.000 yuan (Rp 676 juta), bisa dibeli dalam kondisi bekas nol kilometer seharga 185.800 yuan (Rp 421 jutaan). Namun, konsumen harus jeli. Meski tampak menguntungkan, hak-hak konsumen dalam pembelian mobil ini sering kali tidak sepenuhnya terjamin.
Salah satunya terkait masa garansi. Mobil baru biasanya dilengkapi garansi 6 tahun atau 150.000 km untuk kendaraan dan 10 tahun/jarak tak terbatas untuk sistem baterai. Namun pada mobil bekas nol kilometer, garansi menyusut menjadi 3 tahun atau 120.000 km untuk kendaraan dan 8 tahun atau 120.000 km untuk baterai. Artinya, manfaat perlindungan berkurang sekitar 20 persen.
Di Shanghai Used Car Trading Centre, hampir 10 persen kendaraan yang dijual merupakan mobil bekas nol kilometer. Unit-unit ini datang dari berbagai sumber: mulai dari stok dealer 4S, mobil test drive, hingga kendaraan milik influencer. Beberapa model, seperti Xiaomi SU7, bahkan dijual dengan diskon hingga 20.000 yuan (Rp 45 juta).
Meski harganya menarik, tren ini menimbulkan kekhawatiran. Praktik tersebut bisa membuat konsumen salah sangka bahwa produsen berhasil menjual lebih banyak unit, padahal angka itu berasal dari pendaftaran semu. Para pelaku industri mengingatkan bahwa tren ini berpotensi mengganggu harga pasar dan mempercepat depresiasi nilai kendaraan yang merugikan konsumen.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































