TIMETODAY.ID — Meski kendaraan listrik digadang-gadang sebagai masa depan transportasi ramah lingkungan, kehadirannya juga menimbulkan tantangan baru—salah satunya adalah kebakaran yang sangat sulit ditangani. Masalah ini berbeda jauh dari kasus kebakaran mobil konvensional, baik dari sisi penyebab hingga proses pemadamannya.
Kebakaran pada mobil listrik melibatkan reaksi kimia rumit dan suhu yang sangat tinggi. Bahkan, pemadaman tidak bisa dilakukan hanya dengan cara konvensional seperti menyiram air, karena efeknya bisa jadi justru memperparah keadaan.
Sumber Masalah: Reaksi Berantai Thermal Runaway
Salah satu faktor utama sulitnya pemadaman kebakaran mobil listrik adalah fenomena thermal runaway. Ketika satu sel baterai lithium-ion mengalami overheat, panas ini memicu reaksi berantai ke sel-sel lain, menyalakan api yang bersumber dari reaksi kimia internal, tanpa perlu oksigen dari luar. Gas-gas mudah terbakar seperti hidrogen dan metana yang dilepaskan selama proses ini hanya menambah kerumitan pemadaman.
Suhu Sangat Tinggi dan Potensi Ledakan
Mobil listrik yang terbakar dapat mencapai suhu hingga lebih dari 648 derajat Celsius. Ini bukan hanya berisiko melelehkan komponen, tapi juga dapat menyebabkan ledakan akibat tekanan gas yang meningkat. Dalam situasi ini, petugas pemadam kebakaran membutuhkan perlengkapan ekstra seperti kamera termal dan pelindung tahan ledakan untuk mencegah cedera serius.
Paparan Gas Beracun
Selain bahaya api dan ledakan, kebakaran baterai juga menghasilkan gas beracun seperti hidrogen fluorida (HF), karbon monoksida (CO), dan lainnya. Gas-gas ini bisa berdampak fatal jika terhirup. Oleh sebab itu, penggunaan alat pendeteksi gas serta pelindung pernapasan menjadi hal wajib bagi tim evakuasi dan pemadam.
Risiko Api Muncul Kembali
Tak seperti kebakaran biasa, api pada mobil listrik bisa menyala kembali bahkan setelah dianggap padam. Sisa energi pada sel baterai bisa memicu panas dan memunculkan api kembali dalam hitungan jam atau bahkan hari. Karena itu, bangkai kendaraan harus terus dipantau, biasanya dengan kamera termal, sampai dipastikan benar-benar aman.
Air Tak Selalu Menjadi Solusi
Dalam banyak kasus, air tidak efektif untuk memadamkan kebakaran mobil listrik. Struktur baterai yang tertutup membuat pendinginan internal sulit dilakukan. Bahkan, dibutuhkan puluhan ribu liter air untuk memastikan satu baterai benar-benar padam. Saat ini, beberapa alat pemadam seperti Class D extinguisher dan fire blanket mulai digunakan sebagai alternatif yang lebih efektif.
Struktur Baterai yang Kompleks
Baterai EV tersusun dari banyak modul yang dilindungi lapisan-lapisan kuat. Dalam situasi normal, desain ini memang memberikan perlindungan ekstra. Namun saat terjadi kebakaran, struktur ini justru memperlambat proses pendinginan karena api dapat menyebar antar modul melalui celah yang sulit dijangkau.
Belum Ada Protokol Global yang Seragam
Hingga kini, belum ada protokol universal dalam menangani kebakaran mobil listrik. Berbagai negara masih mengembangkan pendekatan masing-masing—ada yang mengandalkan air dalam volume besar, ada pula yang mengadopsi bahan kimia pemadam khusus. Ketidakkonsistenan ini sering kali menyulitkan petugas dalam bertindak cepat dan tepat.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































