TIMETODAY.ID — Di balik keindahan taman yang penuh warna, tersimpan kisah evolusi panjang yang baru saja menemukan bab terawalnya. Sebutir serbuk sari mungil yang ditemukan di pesisir Portugal telah membawa para ilmuwan kembali ke masa 123 juta tahun lalu—menunjukkan bahwa bunga mungkin sudah mekar dua juta tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
Penemuan ini bukan sekadar temuan fosil biasa. Serbuk sari selebar 0,02 milimeter ini memberi petunjuk baru tentang asal-usul (angiospermae), tumbuhan berbunga yang kini mendominasi hampir seluruh permukaan daratan Bumi. Sebuah rekam jejak kecil, tapi berdampak besar pada sejarah kehidupan di planet ini.
Kilau Kuno dalam Cahaya Modern
Serbuk sari itu ditemukan melalui teknologi mikroskop pemindai laser confocal. Saat cahaya diarahkan ke sampel sedimen dari zaman Kapur di Portugal, empat butir kecil bersinar terang, memancarkan pendar khas yang selama ini menjadi ciri mereka. Analisis lebih lanjut menunjukkan tiga alur halus pada permukaannya—tanda khas serbuk sari tricolpate, jenis yang digunakan oleh lebih dari 70% tumbuhan berbunga saat ini.
“Munculnya tanaman berbunga mengubah keanekaragaman hayati secara signifikan,” jelas Profesor Ulrich Heimhofer dari Leibniz Hannover University dalam pernyataan resminya, dikutip dari IFL Science.
Namun, seperti halnya revolusi besar dalam sejarah alam, transformasi ini tidak terjadi dalam sekejap. Evolusi angiospermae, meskipun tampak mendadak dalam catatan fosil, sebenarnya membutuhkan jutaan tahun untuk berkembang dan menyebar luas.
Misteri ‘Mengerikan’ Darwin yang Mulai Terungkap
Lebih dari satu abad lalu, Charles Darwin menyebut kemunculan bunga sebagai “misteri yang mengerikan.” Ia heran mengapa bunga tiba-tiba muncul dalam jumlah besar dalam catatan fosil, seolah tidak memiliki nenek moyang yang jelas.
Kini, dengan teknologi yang lebih canggih dan pemahaman geologis yang lebih tajam, para ilmuwan mulai merangkai ulang potongan-potongan misteri itu.
“Di mana dan kapan tepatnya perkembangan ini dimulai masih menjadi teka-teki,” ujar Dr. Julia Gravendyck dari Universitas Bonn, penulis utama studi tersebut. “Namun setidaknya kita kini tahu bahwa prosesnya dimulai lebih awal daripada yang diduga.”
Dari Sungai ke Laut, Lalu ke Laboratorium
Serbuk sari yang kini menjadi sorotan dunia ilmiah itu diyakini jatuh dari tanaman ke sungai, hanyut bersama arus menuju laut, dan akhirnya terkubur bersama sedimen pesisir. Di tempat yang sekarang menjadi Portugal, pada garis lintang yang serupa dengan hari ini, tanaman misterius itu mungkin menjadi pionir bagi jutaan spesies tumbuhan berbunga yang kita kenal sekarang.
Analisis isotop strontium dari kulit kerang yang berada di lapisan yang sama memberikan tanggal yang sangat presisi: 123 juta tahun. Lebih tua dari penemuan serupa sebelumnya di Pulau Wight yang diperkirakan berusia 120,4 juta tahun.
Mekarnya Kehidupan dari yang Terkecil
Meski belum jelas apakah Portugal adalah “tempat kelahiran” bunga, penemuan ini mengguncang hipotesis lama bahwa angiospermae pertama kali muncul di daerah tropis. Apapun jawabannya, satu hal yang pasti: inovasi biologis sekecil serbuk sari telah mengubah wajah dunia.
Tanaman penghasil biji-bijian ini, yang termasuk dalam kelompok eudicots, memulai perjalanannya dari yang kecil dan sederhana. Namun, warisan mereka kini ada di mana-mana—di taman, di hutan, dan bahkan di meja makan kita.
Siapa sangka, dari serbuk sari selembut debu, lahirlah dominasi yang menyelimuti planet ini dengan warna dan kehidupan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel




































