TIMETODAY.ID — Ruben Amorim tahu betul bahwa kursi panas manajer Manchester United bukan tempat yang bisa diduduki dengan nyaman terlalu lama terutama saat kemenangan begitu sulit diraih.
Sejak ditunjuk menjadi nakhoda Setan Merah pada November lalu, pelatih asal Portugal ini masih kesulitan menemukan arah yang tepat untuk membalikkan nasib tim.
Hingga pertengahan Mei, Amorim baru mampu mengantarkan MU meraih tujuh kemenangan di Premier League. Hasil ini menempatkan klub raksasa Inggris itu di posisi ke-16 klasemen sementara, hanya dengan koleksi 39 poin—sebuah catatan yang jauh dari ekspektasi publik Old Trafford.
Harapan terakhir MU musim ini terletak pada final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur pekan depan. Kemenangan di laga itu bisa menjadi penyelamat musim sekaligus pembuktian bahwa Ruben Amorim masih layak dipercaya.
Namun semua rekor buruk MU musim ini justru tercipta di bawah komandonya, membuat keraguan terhadap kapasitasnya sebagai pelatih semakin mencuat. Meski begitu, Amorim memilih untuk tidak menyerah.
“Saya selalu bicara soal standar sedari hari pertama tiba di sini,” tegasnya dalam wawancara bersama ESPN. “Saya tidak mungkin akan diam saja dan tidak bertanggung jawab atas hasil buruk tim, terutama di Premier League.”
Amorim sadar bahwa memperbaiki tim sebesar MU tidak bisa dilakukan dalam semalam. Ia menyebut dirinya paham betul dengan tantangan dan persoalan yang dihadapi tim asuhannya, dan justru karena itulah ia belum mau angkat tangan.
“Itu artinya saya punya arah yang jelas soal tim mau seperti apa. Saya paham masalah-masalah di tim ini, sehingga saya tidak mau menyerah,” lanjutnya.
Kesadarannya terhadap posisi yang ia emban pun begitu realistis. Amorim tahu, bila gagal membawa perubahan, pemilik klub tidak akan ragu untuk mencari sosok pengganti.
“Saya ingin bilang bahwa kami harus tampil bagus, di musim ini dan juga ke depannya, atau mereka akan mendepak kita. Itu wajar kok.”
Dengan tekanan yang terus meningkat dan sorotan yang tak kunjung meredup, Ruben Amorim kini berada di titik krusial. Final Liga Europa bukan sekadar pertandingan, melainkan kesempatan terakhir untuk menyelamatkan diri—dan martabat Manchester United.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel




































