TIMETODAY.ID — Sabtu pagi yang sakral di Vatikan menjadi saksi bagi pidato pertama Paus Leo XIV di hadapan College of Cardinals. Dalam pidato perdananya sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik, ia tak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membuka cakrawala masa depan: dunia digital, revolusi kecerdasan buatan, dan tantangan sosial baru yang mengikutinya.
Nama “Leo” yang dipilihnya bukan sekadar simbol. Ia merupakan penghormatan terhadap Paus Leo XIII, pemimpin gereja di era Revolusi Industri pertama, yang kala itu menerbitkan ensiklik bersejarah Rerum Novarum—sebuah dokumen yang menjadi tonggak ajaran sosial gereja, menyuarakan hak-hak pekerja dan memperingatkan tentang bahaya eksploitasi serta kemiskinan sistemik.
Kini, di tengah gelombang revolusi digital dan AI, Paus Leo XIV menyuarakan urgensi yang tak kalah besar. “Hari ini, gereja mempersembahkan kepada semua orang khazanah ajaran sosialnya sebagai tanggapan terhadap revolusi industri lain dan perkembangan kecerdasan buatan,” ujarnya, mengutip dari Vatican News.
Lebih dari sekadar nostalgia sejarah, pidato Paus Leo XIV terasa seperti panggilan baru bagi Gereja Katolik untuk berperan aktif dalam dunia yang berubah cepat. Di era di mana algoritma dan mesin belajar mendikte arah kehidupan manusia, Paus mengajak gereja untuk tetap menjadi suara yang menjaga nilai, kemanusiaan, dan martabat individu.
Paus Leo XIV juga tak lupa menegaskan benang merah antara dirinya dan pendahulunya, Paus Fransiskus. Ia menyoroti kembali Evangelii Gaudium, seruan apostolik Fransiskus yang mengangkat semangat Injil, kepedulian terhadap kaum miskin, kesalehan, serta keterlibatan gereja dalam kehidupan sosial.
“Prinsip-prinsip Injil telah terungkap melalui wajah Bapa yang penuh belas kasih, dan terus terungkap dalam Putra yang menjadi manusia,” ucapnya dalam refleksi mendalam yang menyentuh nilai-nilai dasar kekristenan.
Kesamaan visi antara Leo XIV dan Fransiskus terasa nyata: keduanya menempatkan perdamaian dan keberpihakan pada kaum terpinggirkan sebagai pusat pelayanan gereja. Dalam pidato usai pemilihannya pekan lalu, Paus Leo XIV menegaskan panggilan gereja untuk tetap terbuka, bersatu, dan menjadi agen damai di dunia yang penuh konflik.
“Terima kasih, Paus Fransiskus. Terima kasih kepada saudara-saudara kardinal saya yang telah memilih saya sebagai penerus Petrus. Mari kita berjalan bersama sebagai gereja yang bersatu, mencari kedamaian dan keadilan,” tuturnya, mengakhiri pidatonya dengan harapan dan komitmen baru.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































