TIMETODAY.ID — Di balik kemewahan dan kontroversi yang selalu mengiringi nama Elon Musk, ada kisah pribadi yang tak kalah menggetarkan.
Vivian Jenna Wilson, anak tertua dari miliarder tersebut, baru-baru ini meluapkan kemarahan yang telah lama ia pendam—bukan hanya kepada ayahnya, tetapi juga kepada mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Lahir dengan nama Xavier Alexander Musk, Wilson memilih jalan hidupnya sendiri. Ia mengidentifikasi diri sebagai perempuan transgender dan pada tahun 2022 secara resmi mengganti namanya, meninggalkan jejak sang ayah dalam identitas barunya.
Dalam wawancara langka dengan Teen Vogue, Wilson mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap berbagai tindakan Musk, termasuk gerakan tangan kontroversial yang dilakukan sang ayah saat menghadiri pidato pelantikan Trump.
“Itu jelas merupakan penghormatan Nazi,” ucapnya, menyiratkan kecaman terhadap simbol yang ia anggap berbahaya.
Namun, kemarahannya tak berhenti di situ. Wilson, yang kini berusia 20 tahun, juga mengutuk pemerintahan Trump yang menurutnya “sangat jahat” serta perilaku Musk yang ia sebut “mengerikan”.
Baginya, kedua figur ini bukan hanya berpengaruh secara politik, tetapi juga memiliki dampak besar dalam membentuk lingkungan sosial yang tidak ramah terhadap komunitasnya.
Wilson merupakan buah hati dari pernikahan Elon Musk dengan Justine Wilson. Ia secara terbuka mengakui sebagai transgender sejak tahun 2020, dan dua tahun kemudian, pengadilan Los Angeles mengabulkan permohonannya untuk mengganti nama serta memperbarui akta kelahirannya agar sesuai dengan identitas barunya.
Hubungan ayah dan anak ini semakin merenggang setelah Musk dalam sebuah wawancara dengan Dr. Jordan Peterson, seorang influencer konservatif, mengklaim bahwa Wilson telah “meninggal” secara metaforis.
Menurut Musk, anaknya telah “ditipu” untuk menerima perawatan yang menegaskan identitas gendernya—pernyataan yang semakin memperlebar jurang di antara keduanya.
Dalam wawancara yang sama dengan Teen Vogue, Wilson menyoroti arah politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.
Ia merasa bahwa pemerintahan yang digadang-gadang membawa perubahan justru menciptakan kondisi yang “mengerikan”, terlebih dengan Musk berada di lingkaran kekuasaan.
Bagi Wilson, ini bukan sekadar persoalan politik atau perbedaan ideologi, tetapi tentang bagaimana identitas dan haknya sebagai individu diperlakukan oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindungnya—ayahnya sendiri.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































