TIMETODAY.ID — Di tengah dunia kuliner yang semakin kompetitif, peran food vlogger dan influencer dalam memberikan ulasan makanan kian berpengaruh. Namun, bagaimana jika seorang pelaku usaha kuliner yang sering mengkritik produk orang lain justru tak terima ketika hal yang sama dilakukan terhadap produknya?
Inilah yang terjadi pada Ci Mehong, seorang pengusaha kuliner yang baru-baru ini menuai kritik dari warganet. Perempuan yang dikenal dengan bisnis kue bika ambonnya ini dianggap memiliki standar ganda dalam menilai sebuah produk makanan.
Kontroversi bermula ketika Ci Mehong hadir dalam sebuah acara televisi dan diminta oleh komika Abdel Achrian untuk mengulas produknya. Dalam siaran tersebut, Abdel dengan percaya diri menawarkan kuenya untuk dicoba.
“Saya punya produk makanan, tolong di-review terus endorse, di-up di Instagram-nya Ci Mehong ya?” ujar Abdel sambil menyerahkan produknya.
Menanggapi permintaan itu, Ci Mehong menegaskan bahwa ia hanya akan mempromosikan makanan yang sudah dicobanya dan benar-benar ia sukai. “Saya harus coba dulu. Kalau saya ya, kalau yang lain kan tergantung bayaran,” katanya.
Setelah mencicipi kue tersebut, Ci Mehong memberikan penilaian yang kurang memuaskan. “Nggak begitu (enak), sih. Kurang oke. Enggak (bisa di-endorse), mungkin di orang lain bisa,” ujarnya dengan jujur.
Kejujuran ini rupanya justru menjadi bumerang. Banyak warganet yang menilai sikap Ci Mehong kontradiktif. Pasalnya, ia pernah mengkritik tajam food vlogger yang memberikan ulasan negatif terhadap produknya sendiri.
Dalam beberapa kesempatan, Ci Mehong sempat meminta pemerintah untuk mengatur ulang cara food vlogger menilai makanan. Menurutnya, review makanan seharusnya dilakukan tanpa membandingkan dengan produk lain dan tetap mengedepankan unsur promosi.
“Ya kayak saya, ya susah ya orang cari makannya. Jadi dari pemerintah harus ada satu aturan yang melarang food vlogger, selebgram, itu me-review dengan membandingkan, menyebutkan (produk sejenis milik orang lain),” tegasnya.
Ia pun menambahkan bahwa seorang influencer atau reviewer seharusnya hanya memberikan komentar positif terhadap produk yang mereka coba. “Tinggal dia ngomong, kan dia dibayar, bilang, ‘Ini enak-enak’, kayak iklan biasa aja,” sambungnya.
Pernyataan tersebut pun menuai banyak respons dari warganet. Tak sedikit yang menilai bahwa Ci Mehong seolah ingin menerapkan standar ganda—memilih untuk jujur saat menilai produk orang lain, namun meminta ulasan positif untuk produknya sendiri.
Kontroversi ini kembali menyoroti peran food vlogger dan influencer dalam industri kuliner. Sejauh mana batas antara kejujuran, etika, dan kepentingan bisnis dalam dunia ulasan makanan? Jawabannya mungkin kembali kepada konsumen dan bagaimana mereka menilai suatu rekomendasi.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































