Keluarga Sisingamangaraja: Raja-Raja Batak yang Menabung Emas Selama Ratusan Tahun

Di tengah ketidakpastian ekonomi
illustrasi Gold bars (iStock)

TIMETODAY.ID — Di tengah ketidakpastian ekonomi, emas tetap menjadi salah satu pilihan investasi yang paling menjanjikan. Hingga saat ini, harga emas terus mencetak rekor tertinggi, mencapai Rp1,7 juta per gram.

Kondisi ini membuat banyak orang mulai melirik emas sebagai instrumen investasi, terutama setelah melihat keuntungan yang diperoleh para pemilik logam mulia tersebut.

Dalam hal ini, keluarga Batak lintas generasi bisa dijadikan contoh bagaimana kekayaan tidak dihambur-hamburkan, melainkan diinvestasikan dalam bentuk emas.

Advertisement

Selama ratusan tahun, keluarga ini berhasil mengumpulkan emas hingga mencapai 1 ton, yang jika dikonversikan ke nilai saat ini, setara dengan Rp1,6 triliun.

Tradisi Menabung Emas

Keluarga Sisingamangaraja adalah penguasa Negeri Toba di Tanah Batak. Gelar Raja Sisingamangaraja telah diwariskan sejak Sisingamangaraja I pada tahun 1530 hingga Sisingamangaraja XII pada tahun 1876, berlangsung selama 12 generasi atau sekitar 346 tahun.

Sepanjang masa pemerintahannya, keluarga Sisingamangaraja memiliki kendali penuh atas perdagangan kapur barus, yang saat itu merupakan komoditas berharga.

Tanah Batak menjadi salah satu pusat utama produksi kapur barus, bersaing dengan wilayah di Semenanjung Melayu dan Borneo.

Kapur barus memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ajaran Islam yang menyebutnya dalam Al-Qur’an.

Karena tingginya permintaan, harga kapur barus di pasar internasional melambung tinggi. Kekayaan pun mengalir ke keluarga Sisingamangaraja, yang tidak hanya berdagang tetapi juga berhasil memonopoli pasar kapur barus di Sumatera Utara.

Baca Juga :  Emas Antam Terkoreksi Dalam, Turun Rp40.000 dalam Sehari

Menurut Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII (1988), sejak Sisingamangaraja I berkuasa, kerajaan telah mengekspor kapur barus ke pedagang Arab dan Eropa untuk dipasarkan ke seluruh dunia. Seiring waktu, kerajaan tidak hanya menjadi pemain utama dalam perdagangan, tetapi juga mendominasi pasar secara keseluruhan.

Meskipun kaya raya, keluarga Sisingamangaraja tidak menggunakan kekayaannya untuk hidup bermewah-mewahan.

Berbeda dengan bayangan banyak orang tentang raja yang hidup dalam kemegahan, mereka justru memilih untuk menyimpan kekayaan dalam bentuk emas dan perhiasan.

“Raja-raja Sisingamangaraja dari generasi pertama hingga ke-10 gemar mengumpulkan Blue Diamonds dari Ceylon serta intan-intan besar dari India yang dibawa melalui Barus,” tulis Augustin Sibarani.

Alasan pasti mengapa keluarga Sisingamangaraja memilih untuk menimbun emas tidak diketahui, tetapi yang jelas jumlah emas yang mereka miliki sangat besar.

Harta Warisan yang Dijarah

Keberadaan emas dalam jumlah besar ini menjadi incaran pihak luar. Saat pasukan Padri menyerang wilayah Sisingamangaraja pada tahun 1818, mereka berhasil menembus pertahanan kerajaan dan menjarah semua perhiasan serta emas yang ada.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Naik Rp50 Ribu, Kini Tembus Rp2,9 Juta per Gram

Menurut Mangaraja Onggang Parlindungan dalam Tuanku Rao (1964), emas hasil rampasan ini diangkut menggunakan 17 ekor kuda, dengan setiap kuda membawa sekitar 60 kg emas. Total emas yang dibawa diperkirakan mencapai 1 ton, yang jika dihitung dengan nilai saat ini setara dengan Rp1,6 triliun.

Namun, tidak semua harta berhasil diambil oleh pasukan Padri. Keluarga Sisingamangaraja sempat menyelamatkan sebagian perhiasan kerajaan dengan menyembunyikannya di dalam wadah penanak nasi berukuran besar, yang kemudian disimpan di lokasi rahasia dan hanya diketahui oleh segelintir orang.

Sayangnya, setelah serangan itu, kejayaan trah Sisingamangaraja pun berakhir. Sisingamangaraja XII gugur dalam perlawanan melawan Belanda, mengakhiri garis keturunan kerajaan yang telah berkuasa selama berabad-abad. Seiring dengan runtuhnya kerajaan, harta benda mereka pun jatuh ke tangan pihak lain, termasuk Ratu Victoria di Inggris.

Beberapa sejarawan percaya bahwa perhiasan keluarga Sisingamangaraja kini menjadi bagian dari koleksi kerajaan Inggris. Augustin Sibarani mengungkapkan bahwa sebagian dari harta tersebut dibawa oleh seorang mantan tentara Padri yang melarikan diri ke Malaya, lalu menjualnya di sana sebelum akhirnya sampai ke Inggris mengutip dari cnbcindonesia.com.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel