Ketegangan Global: Israel Ultimatum Hamas, Erdogan Kunjungi RI, Denmark Sindir Trump

Situasi terkait gencatan senjata
Nasib gencatan senjata Israel dan Hamas di Jalur Gaza Palestina hingga manuver kontroversial Presiden AS Donald Trump masih menjadi sorotan berita internasional. (Foto: REUTERS/Eduardo Munoz)

TIMETODAY.ID – Situasi terkait gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, Palestina, serta langkah kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih menjadi perhatian utama dalam berita internasional pada Selasa (11/2).

Berikut rangkuman berita internasional.

Menteri Keuangan Israel dari partai sayap kanan, Bezalel Smotrich, meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengambil tindakan tegas terhadap Hamas jika seluruh sandera tidak dibebaskan sebelum akhir pekan ini.

Advertisement

Dalam pernyataan resminya pada Selasa (11/2), Smotrich mendesak Netanyahu agar memberikan ultimatum kepada Hamas agar seluruh sandera dibebaskan paling lambat Sabtu (15/2).

Baca Juga :  Asmawa Tosepu Pantau Pelaksanaan Perhitungan Suara Hasil Pemilu 2024 Tingkat Kabupaten Bogor

“Tidak ada lagi tahap-tahap negosiasi, tidak ada lagi permainan – jika tidak, kami akan membuka gerbang neraka bagi mereka,” ujar Smotrich, dikutip dari AFP.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyambut kedatangan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Selasa (11/2) malam.

Pesawat kepresidenan Turki tiba pada pukul 18.30 WIB dan disambut dengan pasukan jajar kehormatan serta karpet merah.

Di sisi lain, Denmark memberikan respons balik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan mengusulkan pembelian negara bagian California seharga US$1 triliun atau sekitar Rp16.380 triliun.

Baca Juga :  Hery Antasari Tinjau Pangkalan LPG, Pastikan Stok Terpenuhi

Usulan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan keinginannya untuk membeli Greenland dan mengindikasikan bahwa ia akan menggunakan berbagai cara untuk menguasai wilayah yang masih berada di bawah kekuasaan Denmark.

Rencana ini diumumkan pada Senin dalam sebuah kampanye bertajuk “Denmarkifikasi” yang muncul akibat ketegangan antara pemerintah Denmark dan Presiden Trump.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel