TIMETODAY.ID, JAKARTA — Selama ini ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder kerap dianggap hanya dialami anak-anak. Padahal, gangguan perkembangan saraf ini juga dapat berlanjut hingga usia dewasa. Tak sedikit orang baru menyadari dirinya mengalami ADHD setelah menghadapi tuntutan pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Orang dewasa dengan ADHD umumnya mengalami kesulitan mempertahankan fokus, mengatur waktu, hingga mengendalikan impuls. Jika tidak dikenali, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas, hubungan sosial, dan kualitas hidup sehari-hari.
Merujuk pada National Institute of Mental Health (NIMH), berikut sejumlah fakta penting mengenai ADHD pada orang dewasa.
Gangguan yang Berawal Sejak Masa Kanak-kanak
ADHD merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan pola inatensi (kurang perhatian), hiperaktivitas, dan impulsivitas yang berlangsung secara terus-menerus. Kondisi ini terbagi menjadi tiga tipe, yakni dominan inatensi, dominan hiperaktif-impulsif, serta kombinasi keduanya.
Pada orang dewasa, gejala ADHD sebenarnya sudah muncul sejak masa kanak-kanak, meski banyak kasus baru terdiagnosis ketika seseorang telah memasuki usia dewasa. Riwayat kesulitan belajar, masalah dalam pekerjaan, atau hubungan interpersonal yang kurang stabil kerap menjadi petunjuk adanya gangguan ini.
Gejalanya Bisa Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
ADHD bukan sekadar kebiasaan pelupa atau sulit berkonsentrasi sesekali. Gejalanya dapat muncul secara konsisten selama sedikitnya enam bulan dan terjadi di berbagai situasi.
Beberapa tanda yang umum dialami orang dewasa dengan ADHD meliputi:
- Sulit mengatur waktu dan menyusun prioritas pekerjaan.
- Mudah terdistraksi ketika mengerjakan tugas.
- Sering menunda pekerjaan atau prokrastinasi.
- Kerap lupa terhadap jadwal atau kehilangan barang.
- Sulit duduk diam dalam waktu lama dan membutuhkan stimulasi terus-menerus.
- Cenderung mengambil keputusan secara impulsif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Selain itu, sekitar 70 persen orang dewasa dengan ADHD juga dilaporkan mengalami gangguan tidur yang dapat memperburuk konsentrasi maupun kondisi emosional.
Diagnosis Memerlukan Riwayat Gejala Sejak Kecil
Meski pemeriksaan dilakukan saat dewasa, diagnosis ADHD tetap harus menunjukkan bahwa gejala sudah muncul sebelum usia 12 tahun.
Berbeda dengan anak-anak yang memerlukan sedikitnya enam gejala untuk memenuhi kriteria diagnosis, remaja di atas 16 tahun dan orang dewasa cukup menunjukkan lima gejala yang relevan.
Dalam proses evaluasi, psikolog atau psikiater biasanya akan menggali riwayat masa kecil melalui wawancara dengan keluarga, pasangan, atau orang terdekat. Bila memungkinkan, catatan akademik semasa sekolah juga dapat menjadi bahan pertimbangan.
Banyak individu baru mendapatkan diagnosis saat dewasa karena sebelumnya mampu beradaptasi dengan lingkungan yang suportif. Pada perempuan, ADHD juga lebih sering tidak terdeteksi sejak usia dini karena gejalanya kerap berbeda dengan laki-laki.
Penanganan Dapat Membantu Mengendalikan Gejala
ADHD pada orang dewasa dapat dikelola melalui penanganan yang tepat sehingga penderitanya tetap mampu menjalani aktivitas secara produktif.
Terapi yang umum diberikan meliputi penggunaan obat-obatan, terutama golongan stimulan sesuai anjuran dokter, serta psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu mengelola pola pikir dan perilaku.
Dalam beberapa kasus, pendampingan dari pelatih khusus ADHD (ADHD coach) juga dapat membantu meningkatkan kemampuan mengatur waktu, menyusun prioritas, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Di samping itu, menerapkan gaya hidup sehat, termasuk rutin berolahraga dan menjaga pola tidur, turut mendukung pengelolaan gejala.
Mengenali tanda-tanda ADHD sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Bila kesulitan berkonsentrasi, mengatur aktivitas, atau mengendalikan impuls mulai mengganggu pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































