Kenapa Bisa Hipertermia Meski Berolahraga di Ruangan Ber-AC? Ini Penjelasannya

liburan
iluustrasi liburan. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Seorang perempuan berusia 28 tahun meninggal dunia setelah mengalami hipertermia saat mengikuti kompetisi kebugaran HYROX di Lyon, Prancis, pada Mei 2026. Insiden ini terjadi di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Prancis.

Korban dilaporkan pingsan saat menjalani salah satu sesi lari dalam perlombaan. Tim medis yang berjaga langsung memberikan pertolongan dan membawanya ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Apa Itu Hipertermia?

Hipertermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh meningkat di atas batas normal karena tubuh menghasilkan atau menyerap panas lebih banyak daripada kemampuan tubuh untuk melepaskannya. Kondisi ini termasuk gangguan serius akibat paparan panas dan dapat berkembang menjadi heat stroke apabila tidak segera ditangani.

Advertisement

Venue Ber-AC, Mengapa Tetap Bisa Terjadi?

Penyelenggara HYROX Prancis, Maxime Villalongue, menjelaskan bahwa arena kompetisi telah dilengkapi pendingin ruangan dengan suhu sekitar 17–20 derajat Celsius serta kelembapan yang dijaga pada kisaran 65–70 persen. Panitia juga menambah titik penyediaan air minum di sepanjang lintasan.

Baca Juga :  Warganet Keluhkan Kembalinya Cuaca Panas, Ini penjelasan BMKG

Meski demikian, ia menduga beberapa peserta sudah mengalami stres panas sebelum memasuki arena.

“Kami bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Mungkin para atlet sudah terlalu lama berada di luar di bawah paparan matahari atau datang dalam kondisi kurang terhidrasi,” ujarnya.

Gelombang Panas Diduga Memperburuk Risiko

Saat kejadian berlangsung, Prancis sedang dilanda gelombang panas dengan suhu tinggi di berbagai wilayah. Paparan panas sebelum bertanding, ditambah aktivitas fisik berintensitas tinggi, dapat meningkatkan risiko tubuh mengalami hipertermia meskipun kompetisi berlangsung di ruangan berpendingin.

Dokter Tirta Ingatkan Pentingnya Persiapan

Menanggapi insiden tersebut, dokter sekaligus influencer kesehatan Tirta Mandira Hudhi mengingatkan bahwa peserta event olahraga harus memahami batas kemampuan tubuhnya.

Menurutnya, mengikuti kompetisi bukan hanya soal mendaftar, tetapi juga membutuhkan latihan yang konsisten dan persiapan fisik yang memadai.

Baca Juga :  Dokter Jelaskan Penyebab Leher Kaku setelah Makan Daging Kurban

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu percaya diri mengikuti lomba yang melebihi kapasitas fisik karena olahraga kompetitif memiliki risiko serius, termasuk gangguan jantung, cedera, gangguan ginjal, hingga kematian.

Cara Mengurangi Risiko Hipertermia Saat Berolahraga

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko hipertermia antara lain:

  • Melakukan latihan secara bertahap sebelum mengikuti kompetisi.
  • Memastikan tubuh terhidrasi dengan baik sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
  • Menghindari aktivitas berat saat cuaca sangat panas.
  • Mengenali tanda-tanda awal gangguan akibat panas, seperti pusing, mual, kram otot, lemas, atau kebingungan.
  • Segera menghentikan aktivitas dan mencari pertolongan medis jika muncul gejala hipertermia.

Meski olahraga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, aktivitas dengan intensitas tinggi tetap memerlukan persiapan fisik, hidrasi yang cukup, dan pemahaman terhadap kondisi tubuh agar risiko komplikasi serius dapat diminimalkan.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel