TIMETODAY.ID, JAKARTA — Olahraga tetap menjadi salah satu cara menjaga kebugaran selama kehamilan. Namun, pada trimester pertama, ibu hamil perlu lebih selektif dalam memilih jenis aktivitas fisik karena masa ini merupakan periode penting pembentukan organ-organ janin.
Aktivitas yang terlalu berat atau berisiko tinggi dapat meningkatkan peluang terjadinya cedera, perdarahan, kontraksi dini, hingga komplikasi kehamilan pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, mengenali olahraga yang sebaiknya dihindari menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan ibu maupun calon buah hati.
Berikut sejumlah olahraga yang tidak disarankan dilakukan selama kehamilan muda.
1. Angkat beban
Latihan angkat beban dengan intensitas tinggi dapat memberikan tekanan besar pada otot perut, panggul, dan punggung. Jika dilakukan dengan teknik yang kurang tepat atau beban yang terlalu berat, aktivitas ini berisiko memicu kontraksi rahim, perdarahan, bahkan meningkatkan risiko keguguran pada awal kehamilan.
2. Lari jarak jauh
Berbeda dengan jogging santai, lari jarak jauh membutuhkan stamina tinggi dan membuat tubuh bekerja lebih keras dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan ibu hamil mengalami kelelahan, dehidrasi, hingga peningkatan suhu tubuh yang berlebihan.
Selain itu, tubuh yang terlalu lelah juga dapat meningkatkan risiko pusing, kehilangan keseimbangan, serta terjatuh.
3. Lompat tali
Gerakan melompat secara berulang memberi tekanan pada area panggul dan rahim. Aktivitas ini juga meningkatkan risiko kehilangan keseimbangan sehingga ibu hamil lebih rentan mengalami cedera akibat terjatuh.
4. Bersepeda dengan intensitas tinggi
Bersepeda sebenarnya masih dapat dilakukan pada sebagian ibu hamil dengan kondisi tertentu. Namun, aktivitas ini tidak disarankan jika dilakukan dalam durasi panjang atau intensitas tinggi.
Posisi duduk yang terlalu lama dapat memberi tekanan pada panggul, sementara risiko terjatuh akibat kehilangan keseimbangan juga perlu menjadi perhatian selama trimester pertama.
5. Olahraga bela diri
Karate, taekwondo, judo, muay thai, maupun jenis bela diri lainnya melibatkan kontak fisik, pukulan, tendangan, hingga bantingan. Risiko benturan pada tubuh dan perut membuat olahraga ini tidak dianjurkan selama kehamilan muda.
Selain itu, intensitas gerakan yang tinggi juga dapat memicu kelelahan berlebih.
6. Zumba berintensitas tinggi
Zumba termasuk olahraga kardio yang dipenuhi gerakan cepat, berputar, melompat, dan perubahan arah secara tiba-tiba.
Pada sebagian ibu hamil dengan kondisi sehat, kelas zumba berintensitas rendah mungkin masih dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dokter. Namun, aktivitas dengan intensitas tinggi sebaiknya dihindari karena berpotensi memicu kelelahan, pusing, nyeri perut, hingga kontraksi.
7. Bulu tangkis
Permainan bulu tangkis menuntut gerakan cepat, perubahan arah mendadak, lompatan, serta langkah refleks untuk mengejar kok. Kondisi tersebut meningkatkan risiko tergelincir atau terjatuh sehingga kurang aman dilakukan selama awal kehamilan.
8. Basket
Basket merupakan olahraga dengan intensitas tinggi yang melibatkan lari, lompatan, serta kontak fisik antarpemain. Risiko benturan maupun jatuh membuat olahraga ini tidak disarankan bagi ibu hamil muda.
Selain itu, aktivitas ini juga dapat memberi beban berlebih pada sendi dan panggul.
9. Voli
Olahraga voli juga memiliki risiko benturan dengan bola maupun pemain lain. Gerakan melompat, berlari, dan berpindah posisi secara cepat dapat meningkatkan kemungkinan cedera serta kelelahan selama kehamilan.
10. Mendaki gunung
Mendaki gunung membutuhkan stamina, keseimbangan, dan tenaga yang besar. Medan yang curam serta licin meningkatkan risiko terpeleset atau jatuh.
Di samping itu, kadar oksigen yang lebih rendah di dataran tinggi dapat memengaruhi kondisi ibu hamil dan perkembangan janin apabila dilakukan tanpa pertimbangan medis.
11. Scuba diving
Menyelam menggunakan scuba termasuk aktivitas yang tidak dianjurkan selama kehamilan karena perubahan tekanan udara di bawah air berpotensi meningkatkan risiko gangguan dekompresi yang dapat membahayakan ibu maupun janin.
12. Berkuda
Berkuda menghasilkan guncangan berulang yang dapat memberikan tekanan pada panggul dan perut. Risiko terjatuh dari kuda juga tergolong tinggi sehingga olahraga ini sebaiknya dihindari selama masa kehamilan maupun ketika sedang menjalani program hamil.
Pilih olahraga yang lebih aman
Meski beberapa jenis olahraga perlu dihindari, bukan berarti ibu hamil tidak boleh beraktivitas fisik sama sekali. Jalan santai, yoga khusus ibu hamil, berenang, atau senam hamil umumnya menjadi pilihan yang lebih aman apabila dilakukan sesuai kondisi kesehatan dan anjuran dokter.
Sebelum memulai atau melanjutkan rutinitas olahraga selama kehamilan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan, terutama jika memiliki riwayat keguguran, perdarahan, kehamilan berisiko tinggi, atau kondisi medis tertentu. Dengan memilih aktivitas yang tepat, ibu hamil tetap dapat menjaga kebugaran tanpa mengabaikan keselamatan diri maupun tumbuh kembang janin.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































