TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tidak sedikit orang tua merasa khawatir ketika anak sulit mengucapkan kata “maaf” setelah melakukan kesalahan. Padahal, kemampuan meminta maaf dengan tulus tidak muncul begitu saja, melainkan berkembang seiring bertambahnya usia dan dipengaruhi oleh pola asuh di rumah.
Mengutip berbagai sumber, anak usia dini masih berada dalam tahap mengembangkan theory of mind, yaitu kemampuan memahami pikiran, perasaan, dan sudut pandang orang lain. Karena itu, empati anak belum terbentuk secara utuh dan biasanya mulai berkembang lebih baik pada usia sekitar 4 hingga 5 tahun.
Selain faktor perkembangan, kebiasaan orang tua juga berperan besar dalam membentuk sikap anak terhadap tanggung jawab dan permintaan maaf. Berikut beberapa pola pengasuhan yang tanpa disadari dapat membuat anak kesulitan meminta maaf dengan tulus.
- Orang tua jarang memberi contoh meminta maaf
Anak cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Jika orang tua enggan mengakui kesalahan atau tidak pernah meminta maaf ketika berbuat keliru, anak dapat menganggap bahwa meminta maaf bukanlah hal yang penting.
Sebaliknya, ketika orang tua berani mengucapkan maaf dengan tulus dan menunjukkan upaya memperbaiki kesalahan, anak akan belajar bahwa bertanggung jawab atas tindakan merupakan bagian dari sikap yang baik.
- Tidak menjadi penengah saat anak berkonflik
Ketika anak berselisih dengan saudara atau temannya, sebagian orang tua langsung menentukan siapa yang salah atau meminta anak segera meminta maaf tanpa memahami duduk persoalannya.
Pendekatan seperti ini dinilai kurang membantu. Orang tua sebaiknya berperan sebagai penengah yang netral dengan mengajak semua pihak menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana perasaan mereka. Cara tersebut dapat membantu anak belajar memahami perspektif orang lain sekaligus melatih empati.
- Memaksa anak meminta maaf seketika
Menyuruh anak langsung mengucapkan “maaf” sesaat setelah melakukan kesalahan belum tentu membuat mereka memahami makna di balik permintaan maaf tersebut.
Anak justru bisa menganggap kata “maaf” hanya sebagai cara cepat untuk mengakhiri masalah. Akan lebih baik jika orang tua terlebih dahulu membantu anak memahami dampak dari tindakannya, kemudian memberi kesempatan untuk meminta maaf ketika ia benar-benar menyadari kesalahannya.
- Memarahi atau mempermalukan anak di depan orang lain
Nada bicara yang keras atau mempermalukan anak di hadapan banyak orang dapat membuat mereka lebih fokus pada rasa takut dan malu daripada menyadari kesalahannya.
Akibatnya, permintaan maaf yang diucapkan cenderung dilakukan karena terpaksa demi menghentikan kemarahan orang tua, bukan karena muncul dari kesadaran diri.
- Langsung menghukum tanpa mengajak anak berdiskusi
Memberikan konsekuensi atas kesalahan memang diperlukan dalam kondisi tertentu. Namun, jika hukuman selalu menjadi respons pertama, anak berisiko tidak memahami alasan mengapa tindakannya dianggap salah.
Mengajak anak berdiskusi mengenai peristiwa yang terjadi, perasaan orang yang terdampak, serta cara memperbaiki keadaan dapat membantu mereka memahami bahwa meminta maaf bukan sekadar mengucapkan kata-kata, melainkan bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap orang lain.
Dengan memberi teladan, membangun komunikasi yang baik, dan mengajarkan empati sejak dini, orang tua dapat membantu anak memahami makna permintaan maaf secara lebih tulus dan bertanggung jawab.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































