Tak Sekadar Penasaran, Ini 7 Tanda Seseorang Punya Kebiasaan Stalking

stalking
ilustrasi stalking. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah perkembangan media sosial yang semakin terbuka, mencari informasi tentang orang lain kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik. Namun, ketika rasa ingin tahu berubah menjadi kebiasaan memantau kehidupan seseorang secara berlebihan dan terus-menerus, perilaku tersebut dapat mengarah pada stalking atau menguntit.

Dalam kajian psikologi, stalking tidak sekadar didorong oleh rasa penasaran. Perilaku ini sering kali berkaitan dengan kebutuhan emosional, pola pikir tertentu, hingga kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Selain berpotensi mengganggu privasi, stalking juga dapat menimbulkan rasa takut, cemas, dan tidak aman bagi orang yang menjadi sasaran. Lalu, seperti apa karakteristik orang yang memiliki kecenderungan melakukan stalking?

Advertisement

1. Memiliki Kecenderungan Obsesif

Salah satu ciri yang paling sering ditemukan adalah sifat obsesif. Orang dengan karakter ini cenderung sulit mengalihkan perhatian dari individu yang menjadi fokusnya.

Mereka terus memikirkan, mencari informasi, atau memantau aktivitas target secara berlebihan, baik melalui media sosial maupun kehidupan nyata. Dalam beberapa kasus, obsesi tersebut dapat berkembang hingga melampaui batas privasi seseorang.

2. Sulit Menerima Penolakan

Banyak pelaku stalking mengalami kesulitan ketika harus menerima penolakan atau berakhirnya suatu hubungan.

Mereka kerap merasa kehilangan, kecewa, atau terluka ketika harapan yang diinginkan tidak terwujud. Akibatnya, mereka terus berusaha mempertahankan kedekatan dengan seseorang meski hubungan tersebut telah berakhir atau bahkan tidak pernah terjalin.

Baca Juga :  Menguak Social Ghosting: Saat Pertemanan Zaman Now Tiba-tiba Menghilang

3. Memiliki Keinginan Mengontrol yang Tinggi

Keinginan untuk mengetahui segala aktivitas seseorang sering kali berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa memiliki kendali.

Bagi sebagian orang, memantau kehidupan target dapat memberikan rasa aman atau mengurangi kecemasan yang mereka rasakan. Namun, dorongan ini berisiko membuat seseorang melanggar batas pribadi orang lain demi memenuhi kebutuhan emosionalnya sendiri.

4. Kurang Memahami Batasan Sosial

Tidak semua pelaku stalking menyadari bahwa tindakan mereka dapat membuat orang lain merasa terganggu.

Sebagian menganggap mengirim pesan berulang kali, memantau unggahan media sosial, atau mencari informasi pribadi sebagai bentuk perhatian. Padahal, perilaku tersebut bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan dianggap sebagai pelanggaran privasi.

Kurangnya pemahaman terhadap batasan sosial yang sehat menjadi salah satu faktor yang sering ditemukan dalam perilaku stalking.

5. Empati yang Rendah

Empati membantu seseorang memahami bagaimana perasaan orang lain terhadap suatu tindakan.

Pada beberapa kasus stalking, pelaku cenderung lebih fokus pada keinginan dan kebutuhan pribadinya dibandingkan dampak yang dirasakan oleh target. Akibatnya, mereka tetap melanjutkan perilaku tersebut meski sudah mendapat penolakan atau tanda-tanda ketidaknyamanan dari orang yang bersangkutan.

Baca Juga :  Kabar Rumah Tangga Nia Ramadhani Retak Ramai Dibahas, Fakta Ini Terkuak

6. Terlalu Larut dalam Fantasi

Sebagian pelaku stalking membangun gambaran atau keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Mereka bisa saja meyakini bahwa target memiliki perasaan khusus terhadap mereka, meskipun tidak ada bukti yang mendukung anggapan tersebut. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal pada beberapa bentuk stalking tertentu yang dipengaruhi oleh fantasi atau persepsi yang keliru terhadap hubungan interpersonal.

7. Memiliki Harga Diri yang Rendah

Meski terlihat percaya diri atau agresif, sebagian pelaku stalking justru memiliki rasa percaya diri yang rapuh.

Mereka mencari perhatian, pengakuan, atau validasi dari orang lain untuk mengisi perasaan tidak aman yang ada dalam dirinya. Ketika merasa diabaikan atau ditolak, tekanan emosional yang muncul dapat mendorong mereka melakukan tindakan yang tidak sehat, termasuk menguntit kehidupan orang lain.

Pentingnya Menghargai Batasan Pribadi

Psikolog menilai bahwa stalking bukanlah bentuk perhatian, kasih sayang, atau rasa peduli. Sebaliknya, perilaku ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental dan rasa aman orang yang menjadi sasaran.

Memahami karakteristik orang yang memiliki kecenderungan stalking dapat membantu masyarakat lebih waspada sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat. Menghargai privasi, menerima penolakan dengan dewasa, dan memahami batasan pribadi merupakan langkah penting untuk menciptakan interaksi sosial yang saling menghormati.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel