TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ada alasan ilmiah di balik kebiasaan banyak orang tersenyum hanya karena melihat seekor kucing. Mata bulat, wajah mungil, dan tingkah menggemaskan hewan ini ternyata mampu memicu respons biologis yang sudah tertanam dalam diri manusia sejak lama.
Bagi sebagian orang, Kucing bukan sekadar hewan peliharaan. Kehadirannya sering menjadi teman setia di rumah, sumber hiburan, hingga penenang setelah hari yang melelahkan.
Otak Manusia Dirancang untuk Menyukai Wajah Imut
Menurut penjelasan dalam bidang Psikologi, ketertarikan manusia terhadap hewan lucu berkaitan dengan konsep kindchenschema atau skema bayi yang diperkenalkan oleh Konrad Lorenz.
Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara naluriah tertarik pada ciri-ciri fisik seperti:
- Mata besar
- Kepala bulat
- Hidung kecil
- Wajah mungil
Karakteristik tersebut identik dengan bayi manusia, tetapi juga dimiliki oleh kucing, terutama anak kucing. Karena itu, otak merespons mereka dengan dorongan untuk merawat dan melindungi.
Tingkah Kucing Membuat Manusia Makin Terikat
Selain penampilannya, perilaku kucing yang kadang cuek namun sesekali sangat manja justru memperkuat ikatan emosional.
Perhatian yang tidak selalu diberikan membuat setiap momen ketika kucing mendekat terasa lebih istimewa. Pola ini memicu rasa penasaran dan meningkatkan kedekatan antara manusia dan hewan peliharaan.
Bermain dengan Kucing Bisa Mengurangi Stres
Interaksi dengan kucing memberi efek nyata pada tubuh. Saat seseorang mengelus atau bermain dengan kucing, tubuh akan:
- Melepaskan hormon oksitosin yang memperkuat ikatan emosional
- Meningkatkan dopamin dan endorfin yang menimbulkan rasa bahagia
- Menurunkan kadar kortisol, yaitu hormon stres
Kombinasi tersebut menjelaskan mengapa banyak orang merasa lebih tenang dan nyaman setelah menghabiskan waktu bersama kucing.
Manfaat Kesehatan yang Didukung Penelitian
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa memelihara kucing dapat memberikan manfaat bagi kesehatan.
Sebuah studi pada 2009 menemukan bahwa pemilik kucing memiliki risiko lebih rendah mengalami serangan jantung. Sementara itu, survei di United Kingdom menunjukkan lebih dari 90 persen responden merasa kesehatan mental mereka membaik setelah memiliki kucing.
Apakah Memelihara Kucing Berbahaya?
Meski memiliki banyak manfaat, pemilik tetap perlu menjaga kebersihan. Salah satu risiko yang sering dibahas adalah infeksi Toxoplasmosis akibat parasit Toxoplasma gondii yang dapat ditemukan pada kotoran kucing.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara parasit ini dan gangguan mental seperti depresi atau skizofrenia masih sangat lemah dan belum terbukti secara kuat.
Bukan Sekadar Gemas, Tapi Respons Biologis
Rasa sayang manusia terhadap kucing ternyata bukan hanya soal kebiasaan atau tren di media sosial. Ada mekanisme biologis dan psikologis yang membuat otak secara alami merespons wajah dan tingkah mereka.
Tak heran, seekor kucing yang tidur di pangkuan atau mengeong lembut di sudut rumah sering kali mampu menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































