TIMETODAY.ID, JAKARTA — Utusan Rusia untuk organisasi internasional, Mikhail Ulyanov, melontarkan kritik tajam terhadap pendekatan Amerika Serikat dalam bernegosiasi dengan Iran. Ia menilai strategi yang mengandalkan tekanan dan ancaman tidak efektif untuk menghadapi Teheran.
Dalam pernyataannya di platform X yang dikutip Al Jazeera, Senin (27/4/2026), Ulyanov menyebut Washington selama ini terbiasa berunding dari posisi dominan, termasuk dengan ancaman kekuatan militer maupun sanksi tambahan.
“AS terbiasa bernegosiasi dari posisi kuat, dengan ancaman militer atau sanksi. Jelas pendekatan seperti ini tidak berhasil terhadap Iran,” tulis Ulyanov.
Ia pun mendorong perubahan pendekatan agar peluang dialog lebih terbuka. Menurutnya, AS sebaiknya meninggalkan pola negosiasi yang sarat ultimatum.
“Cara terbaik saat ini adalah menghapus unsur pemerasan, ultimatum, dan tenggat waktu dalam posisi mereka,” lanjutnya.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi konflik yang belum menemukan titik terang antara AS, bersama Israel, dengan Iran. Upaya diplomasi yang diharapkan meredakan ketegangan justru menghadapi hambatan.
Salah satunya terlihat dari batalnya rencana pengiriman utusan Presiden AS Donald Trump ke Pakistan untuk melanjutkan perundingan damai putaran kedua dengan Iran. Meski demikian, Trump menegaskan pembatalan tersebut tidak serta-merta menandakan eskalasi konflik akan kembali meningkat.
Gedung Putih sebelumnya sempat mengumumkan bahwa dua utusan, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan melakukan pembicaraan langsung di Islamabad guna mendorong kemajuan menuju kesepakatan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga aktif melakukan manuver diplomatik. Ia sempat bertemu sejumlah pejabat penting Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Asim Munir, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia.
Kunjungan tersebut disebut-sebut untuk membahas peluang gencatan senjata, termasuk komunikasi lanjutan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Di tengah dinamika yang terus bergerak, pernyataan Ulyanov menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan besar—terutama soal pendekatan dan kepercayaan antarnegara yang terlibat.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































