Fantastis! Perang 2 Pekan Lawan Iran, AS Kuras Dana Rp204 Triliun

As
Perang 2 Pekan Lawan Iran, AS Kuras Dana Rp204 Triliun. Foto: AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp204 triliun selama dua pekan operasi militer melawan Iran. Anggaran besar itu tercatat sejak serangan pertama yang dilakukan bersama Israel pada 28 Februari 2026.

Angka tersebut diungkap penasihat ekonomi Presiden Donald Trump, Kevin Hassett, dalam wawancara dengan program Face The Nation di stasiun televisi CBS pada Minggu (15/3/2026).

Hassett mengatakan jumlah tersebut merupakan data terbaru yang ia terima. Angka itu muncul setelah pembawa acara Margaret Brennan mencoba mengonfirmasi laporan bahwa AS telah menghabiskan sekitar 5 miliar dolar AS hanya dalam pekan pertama serangan.

Advertisement

Meski biaya perang sangat besar, Hassett menepis kekhawatiran bahwa konflik tersebut akan memicu krisis ekonomi di dalam negeri.

Baca Juga :  Azealia Banks Sebut Indonesia "Tempat Sampah Dunia", Ini Maksud Sebenarnya

“Amerika tidak akan mengalami kerugian ekonomi akibat tindakan Iran,” katanya.

Ia menilai pasar keuangan sudah mengantisipasi dampak konflik, terutama dalam penetapan harga kontrak energi masa depan. Bahkan menurutnya, harga energi di pasar global masih relatif rendah dibanding kekhawatiran masyarakat mengenai potensi lonjakan harga bahan bakar di SPBU.

Di sisi lain, pasar tetap menunjukkan kegelisahan setelah Iran membatasi akses ke Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Gangguan terhadap jalur tersebut dinilai lebih berisiko bagi negara-negara di kawasan Teluk yang bergantung pada ekspor minyak dibandingkan bagi Amerika Serikat.

Baca Juga :  AS Tahan Serangan ke Iran, Trump Beri Waktu 5 Hari untuk Negosiasi

“Kita punya banyak sekali minyak,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa serangan udara terhadap Iran kemungkinan akan meningkat secara signifikan dalam waktu dekat.

Di tengah eskalasi konflik, pernyataan pejabat pemerintahan Trump mengenai tujuan operasi militer juga disebut mengalami perubahan. Jika awalnya difokuskan untuk membongkar program nuklir Iran, kini tujuan tersebut bergeser ke upaya melenyapkan program rudal balistik Teheran yang dinilai mengancam pengiriman minyak di Selat Hormuz.

Kondisi ini memicu kekhawatiran dari kalangan legislatif AS. Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, mengkritik ketidakjelasan arah kebijakan pemerintah terkait konflik tersebut.

“(Pemerintah memberikan) jawaban berbeda setiap hari (tentang alasan serangan ke Iran),” ujarnya.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel