TIMETODAY.ID, JAKARTA — Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang belum sepenuhnya terurai. Di tengah kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan pendekatan berbasis teknologi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang kini telah beroperasi di Bantargebang.
Di lapangan, praktik pengelolaan sampah masih didominasi cara konvensional. Banyak masyarakat membakar sampah rumah tangga tanpa proses pemilahan. Padahal, metode ini justru berisiko memindahkan pencemaran dari tanah ke udara jika dilakukan tanpa standar yang tepat.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wiharja, menegaskan bahwa pembakaran sampah tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Kalau aturannya begitu, sampah itu harus di minimum 850, untuk apa? Nah, itu nanti rangkaiannya adalah bagaimana kita tidak memindahkan pencemaran tanah air ke udara,” ujarnya dalam diskusi MELODI di Jakarta.
Risiko pembakaran tanpa kontrol
Menurutnya, pembakaran pada suhu di bawah standar berpotensi menghasilkan zat berbahaya seperti dioksin dan furan. Risiko ini semakin besar jika menggunakan insinerator sederhana tanpa sistem pengendalian emisi.
“Nah, kalau dibakar sebenarnya, kami juga prihatin itu dengan adanya insenator-insenator yang ditawarkan. Kayak di platform-platform yang tidak ada, apa namanya, pengendali udaranya atau APG-nya,” lanjutnya.
Sebagai pembanding, teknologi PLTSa yang dikembangkan BRIN telah melalui pengujian ketat. Hasilnya, tingkat emisi yang dihasilkan berada di angka 0,088—lebih rendah dari ambang batas aman 0,1.
“Dan ya, Alhamdulillah, dari 0,1 yang tadi saya mengenalkan itu, baru membutuhkan 0,1 kita bisa 0,088, sangat jauh. Artinya apa? Teknologi yang kita pilih, yang kita terapkan itu adalah oke. Dan secara praktik kita menjalankan itu, itu ya bandel,” ungkapnya.
Tantangan bukan hanya teknologi
Meski solusi teknologi mulai tersedia, tantangan berikutnya justru terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Edukasi dinilai menjadi kunci agar pengelolaan sampah bisa berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Ini yang, apa namanya, yang namanya tadi, edukasi itu tidak seperti kita membalik tangan. Karena masyarakat juga nanti pengembang teknologi, kami dari BRIN bersyukur juga teknologi itu berkembang. Tetapi ya, itu tadi bahwa teknologi harus teruji. Masyarakat harus teruji. Kemudian, apa namanya, ya, kaedah sainsnya juga harus,” tandasnya.
Dengan kombinasi antara teknologi yang teruji dan kesadaran publik yang terus dibangun, pengelolaan sampah diharapkan tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber energi yang bernilai.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































