Kisah Pedagang Tempe di Pasar Cibinong di Tengah Kenaikan Harga Kedelai

pasar cibinong
Eman (28), salah satu pedagang tempe di pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto : timetoday.id/Amelia Azizah.

TIMETODAY.ID, BOGOR –  Di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tempe yang sehari-hari menjadi lauk sederhana warga kini dijual dengan harga yang perlahan naik. Kenaikan itu tak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga pembeli yang mulai berhitung ulang sebelum membawa pulang belanjaannya.

Eman (28), salah satu pedagang tempe di pasar tersebut, masih mengingat jelas perubahan harga dalam beberapa waktu terakhir. Tempe yang sebelumnya dijual Rp5.000 per papan kini naik menjadi Rp6.000.

“Iya lagi naik, harga tempe sekarang Rp6.000 per papan, sebelumnya Rp5.000,” kata Eman saat ditemui di Pasar Cibinong, Jumat (10/04/2026).

Advertisement
Baca Juga :  Demam Piala Dunia, Penjualan Jersey di Cibinong Sepi Peminat

Kenaikan tak hanya terjadi pada satu ukuran. Untuk tempe berukuran besar, harga kini berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per papan, sementara ukuran kecil ikut naik sekitar Rp1.000.

Di balik perubahan harga itu, kedelai menjadi faktor utama. Bahan baku tempe tersebut kini dijual Rp11.500 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp10.500.

“Iya, sekarang kedelai sekilonya Rp11.500, sebelumnya paling bagus Rp10.500,” ujarnya.

Eman menduga kenaikan ini berkaitan dengan kondisi global yang turut memengaruhi harga komoditas, termasuk gejolak di Timur Tengah yang disebut berdampak pada pasar.

“Kayaknya dari waktu perang, tapi kenaikannya itu sudah terjadi seminggu yang lalu,” katanya.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Ingatkan Disperindag soal Pengawasan dan Stok Minyakita

Meski kedelai masih relatif mudah didapat, pedagang tak punya banyak ruang untuk menahan harga. Penyesuaian menjadi pilihan agar usaha tetap berjalan.

Dampaknya ikut terasa pada makanan olahan harian seperti gorengan yang juga mengalami penyesuaian harga.

“Iya, gorengan juga sekarang dinaikkan jadi Rp5.000 tiga, karena bahan-bahannya pada naik,” ucap Eman.

Di sisi lain, kenaikan harga membuat daya beli masyarakat ikut tertekan. Pembeli disebut mulai mengurangi jumlah belanja, sementara omzet pedagang ikut menyusut.

“Ngaruh lah, sangat ngaruh. Daya beli masyarakat menurun, pada ngurangin,” tuturnya.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel