TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengungkap pertimbangan di balik penunjukan Pakistan sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan dengan Iran. Keputusan ini diambil di tengah munculnya tawaran dari sejumlah negara lain, termasuk Turki, yang juga ingin memfasilitasi dialog damai.
Washington menilai Pakistan memiliki posisi yang lebih netral dan berpeluang besar diterima oleh Teheran. Selain itu, hubungan diplomatik Islamabad yang relatif baik dengan kedua pihak dinilai menjadi modal penting dalam membuka jalur komunikasi yang lebih efektif.
Faktor geografis juga menjadi pertimbangan utama. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Iran, Pakistan dianggap lebih memahami dinamika kawasan serta memiliki akses yang lebih cepat dalam menjembatani kepentingan kedua negara.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diplomasi yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump. Di tengah retorika keras yang kerap disampaikan ke publik, Washington disebut telah melakukan pendekatan senyap selama beberapa pekan untuk mendorong tercapainya gencatan senjata.
Laporan Financial Times menyebutkan bahwa inisiatif penghentian konflik selama dua pekan sebagian besar digagas oleh Amerika Serikat. Bahkan, Trump disebut telah menginginkan deeskalasi sejak 21 Maret, meski secara terbuka masih melontarkan ancaman terhadap Iran.
Dorongan untuk segera meredakan konflik tak lepas dari kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global, terutama potensi lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital tersebut menjadi salah satu titik krusial dalam distribusi energi dunia.
Selain itu, pejabat AS juga disebut cukup terkejut dengan kemampuan Iran bertahan dari tekanan militer yang intens. Situasi ini mendorong Washington untuk mencari jalan keluar diplomatik yang lebih cepat.
Pengumuman gencatan senjata sendiri disampaikan Trump pada Rabu (7/4/2026) malam, hanya sekitar satu jam sebelum tenggat rencana serangan terhadap infrastruktur Iran berakhir. Waktu pengumuman yang mendadak itu sempat memicu spekulasi bahwa langkah tersebut lebih merupakan penundaan ketimbang penghentian permanen.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran disebut diminta membuka kembali akses di Selat Hormuz sebagai bagian dari kompromi. Namun, narasi ini berbeda dengan pernyataan publik sebelumnya dari Trump yang menyebut Iran sebagai pihak yang lebih dulu meminta gencatan senjata dan mengklaimnya sebagai kemenangan tanpa syarat.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































