
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas. Israel dilaporkan terus melancarkan serangan udara dan mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon. Sementara itu, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa pihaknya menolak berunding soal gencatan senjata selama serangan masih berlangsung.
Berdasarkan laporan AFP pada Kamis (26/3/2026), pasukan Israel bergerak ke arah Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan, dengan tujuan mengamankan jalur strategis dan memperluas “zona keamanan” yang sebelumnya telah mereka ciptakan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa langkah militer ini untuk mencegah serangan darat ke wilayahnya serta menekan ancaman rudal dari Lebanon.
Di sisi lain, Hizbullah tidak tinggal diam. Kelompok militan ini mengaku telah meluncurkan lebih dari 80 serangan terhadap posisi pasukan Israel sepanjang Rabu, termasuk menembakkan rudal ke sembilan kota perbatasan dan wilayah tengah Israel.
Media Israel melaporkan enam roket berhasil dicegat, sementara satu tentara Israel mengalami luka parah akibat tembakan roket di Lebanon selatan.
Konflik ini bermula ketika Hizbullah membalas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret lalu. Presiden Lebanon sempat menawarkan negosiasi langsung dengan Israel untuk meredakan ketegangan, namun tawaran itu ditolak.
Menurut Qassem, perundingan di tengah serangan sama dengan memaksa kelompoknya menyerah.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan kedua belah pihak untuk segera menghentikan tembakan. Ia juga memperingatkan agar Israel tidak meniru “model Gaza” di Lebanon selatan, yang dapat memicu pengungsian massal.
Konflik ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan Timur Tengah, di mana warga sipil dan pasukan di kedua sisi menghadapi risiko yang semakin besar.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































