TIMETODAY.ID, TEHERAN – Namanya tidak pernah tercantum dalam daftar pejabat resmi Iran. Ia tidak pernah berpidato di depan publik, tidak pernah memegang jabatan pemerintahan, dan hampir tidak pernah tampil di hadapan kamera. Namun selama dua dekade, Mojtaba Khamenei adalah kekuatan sesungguhnya yang bergerak di balik Republik Islam, cukup berpengaruh hingga Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2019. Kini, pria 56 tahun itu resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.
Majelis Ahli Iran menunjuk Mojtaba menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara di tengah konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Penjaga Gerbang yang Jadi Penguasa
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai “penjaga gerbang” sang ayah. Ia membangun pengaruhnya secara senyap melalui kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan jaringan bisnis besar dalam lingkaran kekuasaan Tehran.
Kasra Aarabi, kepala penelitian IRGC di lembaga kebijakan United Against Nuclear Iran, menyebut Mojtaba memiliki basis dukungan kuat di kalangan generasi muda IRGC yang lebih radikal.
Washington menyatakan Mojtaba selama ini bertindak mewakili pemimpin tertinggi secara de facto, bekerja erat dengan komandan Pasukan Quds IRGC serta milisi Basij, meski tanpa satu pun jabatan resmi yang melekat pada namanya.
Dibenci Musuh, Justru Dipilih
Penunjukan Mojtaba bukan tanpa pesan politik. Anggota Majelis Ahli, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, menyatakan pemilihan merujuk pada arahan Ali Khamenei sebelum wafat: pemimpin tertinggi Iran harus menjadi sosok yang “dibenci oleh musuh”.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang tidak dapat diterima. Pernyataan itu justru menjadi argumen pendukungnya.
“Bahkan Setan Besar pun telah menyebut namanya,” ujar Heidari Alekasir dalam video yang dirilis Minggu (8/3/2026).
Jejak Kontroversi
Lahir pada 1969 di Mashhad, kota suci kaum Syiah, Mojtaba tumbuh dalam keluarga revolusioner. Ia sempat terlibat dalam perang Iran-Irak sebelum menempuh pendidikan teologi di Qom di bawah bimbingan ulama konservatif.
Namanya mencuat dalam pusaran kontroversi saat dituduh berada di balik kemenangan kontroversial Mahmoud Ahmadinejad pada Pemilu 2009, pemilu yang memicu gelombang protes besar antipemerintah yang dibubarkan paksa oleh milisi Basij.
Pada 2022, nama Mojtaba kembali menjadi sasaran kecaman publik saat protes massal meletus menyusul kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi.
Kini kritik terbarunya datang dari dalam negeri sendiri: sejumlah kalangan menolak praktik politik dinasti di negara yang pada 1979 justru menggulingkan monarki untuk selamanya.
Sementara itu, perang yang mengantarkannya ke puncak kekuasaan turut merenggut orang terdekatnya. Istri Mojtaba, putri mantan Ketua Parlemen Gholamali Haddadadel, dilaporkan tewas dalam serangan udara pada Sabtu lalu.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba kini memegang kendali penuh atas kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran, dua isu yang selama ini menempatkan Tehran dan Washington di ujung tombak konfrontasi.








































