TIMETODAY.ID, MANILA — Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr memangkas hari kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) dari lima hari menjadi empat hari seminggu, berlaku mulai Senin (9/3/2026). Kebijakan itu diambil sebagai respons langsung atas krisis energi yang dipicu eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah.
Melansir Bloomberg, Minggu (8/3/2026), pemangkasan hari kerja ini bersifat sementara dan hanya berlaku di kantor-kantor pemerintah yang telah ditetapkan di bawah cabang eksekutif.
“Mulai Senin, 9 Maret, kami akan menerapkan sementara sistem kerja empat hari seminggu di sejumlah kantor eksekutif,” ucap Marcos.
Marcos turut melarang sementara seluruh perjalanan dan kegiatan pemerintah yang dinilai tidak mendesak, termasuk studi banding, kegiatan pembangunan tim, serta pertemuan yang dapat digelar secara daring. Seluruh instansi pemerintah juga diperintahkan memangkas konsumsi bahan bakar dan listrik sebesar 10 hingga 20 persen.
Kendati demikian, tidak semua instansi pemerintah terdampak kebijakan ini. Lembaga layanan darurat seperti kepolisian dan pemadam kebakaran, serta kantor pemerintah yang melayani publik di garis terdepan, tetap beroperasi dengan jadwal normal.
Marcos menegaskan bahwa langkah ini diambil semata demi melindungi warga Filipina.
“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan perang, tetapi kita bisa mengendalikan cara kita melindungi rakyat Filipina,” teMarcos Pangkas Hari Kerja ASN, Imbas Krisis Energi Perang Iranbahwa penuupan efektif Selat Hormuz, jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, akan mendorong kenaikan harga BBM pekan depan sebesar 7,48 peso per liter untuk bensin, 17,28 peso untuk solar, dan 32,35 peso untuk minyak tanah. Kondisi itu menjadi alasan utama Manila bergerak cepat menerapkan langkah-langkah penghematan energi sebelum dampaknya semakin dalam dirasakan masyarakat.





































