TIMETODAY.ID, BOGOR – Lebih dari enam dekade, nama Donny Fattah tak pernah lepas dari peta musik rock Indonesia. Dari panggung kecil Harbour Beat pada 1965 hingga menggetarkan Taman Ismail Marzuki bersama God Bless pada 1973, bassis bernama lengkap Gideon Onda Patta Gagola itu meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus dalam sejarah musik Tanah Air, sebelum akhirnya berpulang, Sabtu (7/3/2026) di usia 76 tahun.
Donny bukan sekadar pemain bass. Ia adalah arsitek warna musik God Bless, kelompok rock yang ia dirikan bersama Achmad Albar, Fuad Hassan (almarhum), Yockie Surjoprajogo, dan Ludwig Lemans. Teknik funky thump yang ia perkenalkan, terinspirasi dari maestro bass dunia Stanley Clarke, mengubah cara bermusik para bassis Indonesia, bahkan merambah hingga Malaysia dan Singapura.
Lima album studio bersama God Bless, dari Huma Di Atas Bukit (1975) hingga Apa Kabar (1997), menjadi bukti konsistensinya. Lagu-lagu seperti Semut Hitam, Musisi, dan Anak Adam yang lahir dari tangannya kini menjadi warisan abadi rock Nusantara.
Di luar God Bless, rekam jejaknya terus memanjang. Proyek duet D&R bersama adiknya Rudy Gagola melahirkan hits Mimpi dan Datanglah Trang (1975). Ia juga memperkuat formasi Kantata dan Gong 2000 pada 1990, menulis lagu-lagu seperti Basa-Basi dan Penantian yang tak kalah berkesan.
Kepergian Donny Fattah menutup satu babak panjang yang telah ia tulis sendiri, babak yang mengubah untuk selamanya wajah rock Indonesia.








































