
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Industri kendaraan listrik global tengah memasuki babak baru dengan hadirnya teknologi baterai berbasis sodium-ion. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi atas tingginya harga mobil listrik yang selama ini menjadi kendala utama masyarakat untuk beralih dari kendaraan konvensional.
Terobosan ini dipelopori oleh kolaborasi strategis antara pabrikan otomotif Changan dan produsen baterai raksasa CATL. Keduanya telah merilis model kendaraan listrik pertama di dunia yang menggunakan teknologi sodium-ion, menandai langkah besar menuju era transportasi bersih yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Material Melimpah, Harga Lebih Kompetitif
Berbeda dari baterai lithium-ion yang bergantung pada logam langka, baterai sodium-ion memanfaatkan natrium unsur yang melimpah dan mudah ditemukan, bahkan dalam garam meja. Ketersediaan bahan baku ini menjadi kunci penurunan biaya produksi secara signifikan.
Sejumlah laporan industri menyebutkan bahwa teknologi sodium-ion berpotensi memangkas biaya sel baterai hingga 30–40 persen dibandingkan baterai konvensional. Artinya, produsen memiliki peluang lebih besar menghadirkan mobil listrik dengan harga yang lebih ramah di kantong.
Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, inovasi ini menjadi kabar baik. Harga kendaraan yang lebih terjangkau bisa mempercepat adopsi mobil listrik di kalangan masyarakat luas.
Tahan Suhu Ekstrem dan Lebih Aman
Selain harga, performa teknis baterai sodium-ion juga menjadi daya tarik tersendiri. Teknologi ini diklaim lebih stabil dalam suhu ekstrem. Jika baterai lithium kerap mengalami penurunan performa di suhu sangat dingin, baterai sodium-ion tetap mampu mempertahankan kapasitas pengisian daya dalam kondisi suhu rendah.
Dari sisi keamanan, karakter kimia sodium dinilai lebih stabil sehingga risiko kebakaran akibat panas berlebih atau korsleting dapat ditekan. Stabilitas ini tentu menjadi nilai tambah bagi pengguna kendaraan listrik dalam aktivitas harian.
Menuju Ekosistem Tanpa Ketergantungan Lithium
Meski saat ini kepadatan energi sodium-ion masih sedikit di bawah lithium-ion, pengembangannya terus mengalami peningkatan. Teknologi ini dinilai sangat cocok untuk penggunaan kendaraan perkotaan yang tidak membutuhkan jarak tempuh sangat jauh dalam sekali pengisian daya.
Penggunaan sodium secara luas juga berpotensi mengurangi ketergantungan global terhadap lithium dan kobalt, yang proses penambangannya kerap menuai kontroversi lingkungan. Dengan bahan baku yang lebih ramah lingkungan dan melimpah, baterai sodium-ion berpeluang menjadi standar baru untuk mobil listrik kelas menengah dan entry-level.
Jika pengembangan terus berjalan positif, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan jalanan kota akan dipenuhi mobil listrik yang lebih murah, aman, dan ramah lingkungan berkat teknologi ini. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































