Tambang Ilegal di India Meledak, 18 Penambang Tewas dan 8 Luka-luka

India
ilustrasi tambang batu bara ilegal meledak. Foto: ai/ gemini

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Suasana duka menyelimuti negara bagian Meghalaya, India timur laut, setelah ledakan hebat menghancurkan sebuah tambang batu bara ilegal dan menewaskan sedikitnya 18 orang.

Insiden tragis tersebut juga menyebabkan sejumlah pekerja lainnya mengalami luka-luka, sementara tim penyelamat terus berupaya memastikan tidak ada korban yang masih terjebak di dalam reruntuhan tambang.

Petugas penyelamat menemukan puluhan korban jiwa saat mengevakuasi lokasi yang dipenuhi puing dan sisa kebakaran. Polisi setempat mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia melalui pernyataan resmi.

Advertisement

“Selama operasi penyelamatan, total 18 jenazah telah ditemukan dari lokasi ledakan,” kata polisi setempat dalam sebuah pernyataan.

Selain korban tewas, delapan orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan yang terjadi di distrik East Jaintia Hills.

Pejabat setempat, Manish Kumar, mengatakan tim penyelamat sempat menggali puing-puing untuk mencari kemungkinan adanya penambang lain yang masih terjebak.

Namun, proses pencarian terpaksa dihentikan sementara ketika malam tiba dan akan dilanjutkan kembali keesokan harinya.

Baca Juga :  Gajah Jantan Tunggal Tewaskan 22 Orang, Otoritas India Lakukan Pengejaran Intensif

Kumar menjelaskan bahwa lokasi kejadian merupakan tambang ilegal yang dikenal sebagai tambang lubang tikus.

Ia menyebut pihak berwenang kini menunggu dukungan tambahan dari badan manajemen bencana tingkat negara bagian maupun federal untuk melanjutkan operasi pencarian.

Tambang lubang tikus merupakan metode penambangan tradisional dengan menggali lubang vertikal sempit di lereng bukit yang kemudian bercabang menjadi terowongan kecil untuk mengakses batu bara atau mineral lainnya.

Metode ini telah lama menuai kontroversi karena dianggap berisiko tinggi terhadap keselamatan pekerja serta berdampak buruk pada lingkungan.

Praktik penambangan tersebut sebenarnya telah dilarang oleh pengadilan lingkungan federal sejak 2014 setelah muncul keluhan masyarakat terkait pencemaran sumber air dan ancaman keselamatan bagi para pekerja.

Meski demikian, aktivitas penambangan ilegal masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Meghalaya, terutama di kawasan East Jaintia Hills.

Kepala Kepolisian Distrik, Vikash Kumar, mengungkapkan dugaan awal penyebab ledakan berasal dari penggunaan bahan peledak dalam aktivitas penambangan.

Baca Juga :  Kembaran Innova Reborn Dapat Penyegaran, Ini Ubahan Toyota Innova Crysta 2026

Namun, pihaknya masih menunggu hasil investigasi forensik untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.

“Setelah ledakan, terjadi kebakaran. Banyak gas beracun yang terkumpul,” kata Vikash Kumar.

Pemerintah negara bagian Meghalaya merespons insiden ini dengan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.

Menteri Utama Meghalaya, Conrad K. Sangma, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen mengusut tuntas kejadian tersebut dan memastikan adanya pertanggungjawaban dari pihak terkait.

Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi turut menyampaikan belasungkawa atas tragedi tersebut melalui pernyataan resmi.

“Belasungkawa kepada mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai. Semoga yang terluka segera pulih,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan kepada keluarga korban, pemerintah menyatakan bahwa keluarga korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar 200.000 rupee atau sekitar 2.216 dolar AS.

Tragedi ini kembali menyoroti persoalan keselamatan kerja di sektor pertambangan ilegal di India, sekaligus menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para pekerja yang menggantungkan hidup pada aktivitas tambang berbahaya.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel