TIMETODAY.ID, JAKARTA — Langit Gaza kembali dipenuhi suara dentuman dan dengung drone militer. Di tengah harapan warga atas gencatan senjata yang dimulai sejak Oktober lalu, serangan kembali terjadi dan menambah panjang daftar korban jiwa di wilayah konflik tersebut.
Laporan terbaru menyebutkan sedikitnya 23 warga Palestina tewas dalam rentetan serangan militer Israel. Korban yang berjatuhan bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang turut menjadi bagian dari tragedi kemanusiaan yang belum berakhir.
Serangan paling mematikan terjadi di lingkungan Tuffah dan Zeitoun, Kota Gaza, yang menewaskan sedikitnya 14 orang. Wilayah tersebut dilaporkan menjadi sasaran langsung serangan, memperparah situasi warga yang selama berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.
Serangan lain juga menyasar area pengungsian. Empat warga dilaporkan meninggal dunia setelah tenda-tenda pengungsi di Qizan Abu Rashwan, selatan Khan Younis, menjadi target serangan.
Sementara itu, dua korban lain tewas akibat serangan udara di kamp tenda pesisir al-Mawasi. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengungkapkan salah satu korban merupakan petugas pertolongan pertama, Hussein Hasan Hussein al-Sumairy.
Situasi di lapangan digambarkan semakin mencekam. Wartawan Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, melaporkan sejumlah rumah warga menjadi target tanpa peringatan.
“Telah menjadi sasaran langsung tanpa peringatan sebelumnya,” ujar Abu Azzoum.
Ia menambahkan, serangan tersebut terjadi meski kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat seharusnya masih berlaku. Kondisi ini membuat warga Gaza terus hidup dalam ketakutan.
“Serangan-serangan tersebut, yang terjadi meskipun ‘gencatan senjata’ yang dimediasi Amerika Serikat seharusnya telah berlaku, telah membuat warga Palestina di Gaza ‘tanpa rasa lega sama sekali’,” katanya.
Menurutnya, aktivitas militer Israel justru meningkat dalam beberapa jam terakhir. Warga juga melaporkan suara drone yang terus berputar di udara, memicu kekhawatiran akan serangan lanjutan.
“Terjadi peningkatan aktivitas militer Israel di Gaza dalam beberapa jam terakhir. Kita dapat mendengar suara drone Israel yang melayang di atas kepala, yang menandakan potensi serangan lebih lanjut yang mungkin terjadi,” imbuhnya.
Pihak militer Israel menyatakan serangan dilakukan setelah seorang perwira cadangan mereka tertembak dan mengalami luka serius saat menjalankan aktivitas operasional rutin di dekat “garis kuning”, yakni batas wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel.
Selain itu, dilaporkan pula adanya pemindahan posisi garis tersebut di wilayah Gaza timur, yang memicu kecemasan baru di kalangan warga.
Data terbaru menunjukkan sejak gencatan senjata diberlakukan hampir empat bulan lalu, lebih dari 520 warga Palestina dilaporkan tewas. Pada Rabu (4/2), Kementerian Kesehatan Gaza juga menyebut Israel menyerahkan 54 jenazah warga Palestina serta 66 kotak berisi sisa-sisa manusia dan organ.
Jenazah dan sisa-sisa tersebut diserahkan melalui Palang Merah dan akan diperiksa tim medis sebelum dikembalikan kepada keluarga korban.
Sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, korban jiwa di pihak Palestina dilaporkan telah mencapai sedikitnya 71.803 orang.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia serta penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut tindakan militer Israel di Gaza sebagai genosida. Saat ini, proses hukum terkait tuduhan tersebut masih berlangsung di Mahkamah Internasional di Den Haag.
Di tengah angka korban yang terus bertambah, warga Gaza masih menanti satu hal yang hingga kini terasa jauh: rasa aman yang sesungguhnya.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































