Whip Pink Viral, Dokter Paru Ingatkan Risiko Hipoksia dan Kerusakan Saraf

Whip Pink
ilustrasi whipped cream , Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Beberapa waktu terakhir, perhatian warganet Indonesia tertuju pada produk Whip Pink. Tabung berisi gas nitrous oxide ini sejatinya digunakan untuk menghasilkan whipped cream dengan tekstur lembut dan mengembang di dunia kuliner.

Namun, belakangan gas ini justru disalahgunakan sebagian orang untuk mendapatkan sensasi euforia melalui inhalasi, yang berisiko serius bagi kesehatan.

Spesialis paru Prof. dr. Erlina Burhan, SpP(K) menekankan bahwa penggunaan nitrous oxide sejatinya sangat berbeda di ranah medis maupun kuliner.

Advertisement

“Penting diketahui, penyalahgunaan inhalasi N₂O tidak hanya berisiko, tetapi juga secara eksplisit tidak didukung oleh produsen. Dalam ketentuan penggunaan, tertulis jelas bahwa penggunaan untuk tujuan inhalasi dilarang,” ujarnya melalui akun X, Jumat (30/1/2026).

Prof. Erlina menjelaskan, dalam industri pangan, gas ini berperan untuk membentuk tekstur atau foam pada bahan makanan, lalu dilepaskan ke udara.

“Jadi tidak dimaksudkan untuk dihirup atau masuk ke saluran napas manusia,” tambahnya. Di dunia medis, gas nitrous oxide digunakan sebagai anestesi ringan, tetapi di bawah pengawasan ketat tenaga profesional.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Pelengkap Masakan, Ini 6 Manfaat Seledri untuk Kesehatan

Dampak Langsung pada Paru-paru

Penyalahgunaan gas ini dapat menimbulkan hipoksia, kondisi di mana paru-paru kekurangan oksigen. Gejala yang muncul antara lain pusing, lemas, hingga kehilangan kesadaran.

“Pada kondisi lebih berat, hipoksia bisa menyebabkan cedera serius, termasuk kerusakan otak. Risiko ini nyata dan bisa terjadi tiba-tiba,” terang Prof. Erlina.

Selain itu, nitrous oxide disimpan sebagai gas bertekanan sehingga penyalahgunaan juga berpotensi menyebabkan cedera rongga dada, seperti pneumomediastinum—udara terperangkap di ruang tengah dada yang menimbulkan nyeri dan sesak—atau pneumotoraks, ketika udara masuk ke rongga pleura hingga paru-paru mengempis. Kedua kondisi ini berbahaya dan membutuhkan penanganan medis segera.

Risiko Kardiovaskuler dan Saraf

Penyalahgunaan N₂O berulang juga bisa memicu tromboemboli, yakni pembekuan darah di vena atau emboli paru yang mengancam nyawa. Dampak lain adalah defisiensi vitamin B12, yang dapat merusak sistem saraf.

Baca Juga :  Lindungi Paru-Paru dari Polusi dan Rokok dengan Vitamin Ini

“Gejala gangguan saraf akibat penyalahgunaan N₂O meliputi kebas dan kesemutan di tangan dan kaki, kelemahan, gangguan keseimbangan, serta kesulitan berjalan. Pada sebagian orang juga dapat muncul kebingungan, perubahan perilaku, hingga halusinasi,” jelas Prof. Erlina. Kekurangan B12 juga bisa menyebabkan anemia megaloblastik.

“Dampak penyalahgunaan N₂O tidak hanya pusing sesaat, tetapi bisa meluas dan serius,” tandasnya.

Pengawasan Diperketat

Menanggapi fenomena ini, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan pihaknya akan meningkatkan pengawasan bersama Badan Narkotika Nasional.

“Jadi Badan POM mempunyai atensi yang besar terhadap penyalahgunaan nitrogen oksida ini. Untuk pengawasannya kita akan bekerja sama, tentu saja dengan BNN, Kepolisian, dan Kementerian Kesehatan yang berkaitan dengan aturan pemakaiannya,” ungkap Taruna.

Meskipun legal untuk keperluan medis dan kuliner, Whip Pink menyimpan risiko serius jika disalahgunakan. Para ahli mengingatkan, gas yang memberi sensasi ‘fly’ sesaat ini bukan sekadar hiburan ringan, tapi bisa menjadi ancaman bagi paru, jantung, dan saraf.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel