Dolar AS Bergerak Turun, Rupiah Stabil di Kisaran Rp 16.800-an

dolar
ilustrasi Dollar AS. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah membuka Kamis pagi dengan sedikit ruang bernapas. Setelah beberapa hari berada di bawah tekanan, dolar Amerika Serikat (AS) justru melemah tipis pada pembukaan perdagangan, bertahan di kisaran Rp 16.800-an.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS tercatat turun 3 poin atau sekitar 0,02% ke level Rp 16.862. Bahkan, pada awal perdagangan, mata uang Paman Sam sempat menyentuh posisi Rp 16.860 sebelum kembali bergerak terbatas.

Sehari sebelumnya, Rabu (14/1/2026), dolar AS ditutup di level Rp 16.865. Untuk perdagangan hari ini, pergerakan dolar diperkirakan berada dalam rentang sempit, antara Rp 16.850 hingga Rp 16.863, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar.

Advertisement

Pelemahan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah. Di pasar global, mata uang tersebut juga tampak tertekan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Terhadap euro (EUR), dolar melemah 0,04%. Tekanan serupa terjadi terhadap pound sterling (GBP) yang menguat 0,07%, serta dolar Australia (AUD) yang naik 0,03%.

Baca Juga :  Satu Malam yang Menyelamatkan: Mahkamah Agung Hentikan Deportasi Massal

Dolar AS juga kehilangan tenaga terhadap yen Jepang (JPY) sebesar 0,07% dan franc Swiss (CHF) sekitar 0,03%. Satu-satunya pengecualian, dolar AS justru menguat tipis 0,06% terhadap dolar Kanada (CAD).

Meski demikian, pelemahan dolar hari ini belum sepenuhnya menghapus tekanan yang sempat menekan rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat terseret hingga menyentuh level Rp 16.872 per dolar AS.

Bank Indonesia menilai tekanan tersebut bersumber dari kombinasi faktor global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.

Baca Juga :  Dolar AS Tersungkur Usai Kebijakan Baru The Fed, Rupiah Ikut Menguat

“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Ke depan, pergerakan rupiah dan dolar AS masih akan sangat bergantung pada dinamika global, khususnya arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik dunia. Pasar pun diperkirakan tetap bergerak fluktuatif, dengan sentimen eksternal menjadi penentu utama.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel