
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Angin dingin menusuk tulang menyelimuti Jalur Gaza, membawa ancaman baru bagi ribuan warga yang telah lama hidup dalam pengungsian. Di tengah reruntuhan perang dan keterbatasan bantuan, cuaca dingin ekstrem kini merenggut nyawa sedikitnya 24 orang. Tragisnya, mayoritas korban adalah anak-anak.
Data yang dirilis otoritas lokal Gaza mencatat, sekitar 21 dari total korban tewas merupakan anak-anak. Angka ini terakumulasi sejak konflik antara Hamas dan Israel pecah pada Oktober 2023 dan terus berlanjut hingga Januari 2026.
Dalam pernyataannya, kantor media pemerintah Gaza mengungkapkan bahwa sejak awal musim dingin saja, sedikitnya tujuh anak meninggal dunia akibat paparan suhu dingin yang parah. Mereka adalah pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat, tanpa perlindungan memadai dari cuaca ekstrem.
“Semua korban merupakan pengungsi Palestina yang hidup di kamp-kamp pengungsian paksa,” demikian pernyataan resmi kantor media pemerintah Gaza, Selasa (13/1).
Situasi semakin memburuk ketika sistem cuaca bertekanan rendah menghantam wilayah tersebut. Sekitar 7.000 tenda pengungsian dilaporkan rusak atau tersapu angin dan hujan, membuat ribuan keluarga kehilangan satu-satunya tempat berlindung.
Otoritas Gaza memperingatkan adanya “konsekuensi kemanusiaan yang dahsyat” jika suhu dingin kembali membeku, terutama di tengah gempuran militer Israel yang belum berhenti dan blokade ketat yang membatasi masuknya bantuan.
Perang yang berkepanjangan telah menghancurkan rumah-rumah, fasilitas publik, dan infrastruktur dasar. Lebih dari 1,5 juta warga Palestina kini terpaksa bertahan hidup di kamp-kamp pengungsian dengan kondisi yang jauh dari layak. Minimnya pasokan pemanas, kurangnya selimut, pakaian musim dingin, serta tempat berlindung yang aman membuat kelompok rentan—terutama anak-anak—berada di ambang bahaya.
Kantor media pemerintah Gaza menuding Israel bertanggung jawab penuh atas kematian akibat cuaca dingin ini. Mereka menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari kebijakan “pembunuhan secara perlahan, kelaparan, dan pengungsian paksa” terhadap warga Gaza.
Seruan pun kembali dilayangkan kepada komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia agar segera bertindak. Otoritas Gaza meminta pembangunan tempat berlindung yang aman, dibukanya akses masuk bantuan kemanusiaan, serta pasokan pemanas tanpa hambatan.
Menurut data otoritas setempat, lebih dari 71.000 warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—telah tewas sejak perang dimulai. Lebih dari 171.000 lainnya mengalami luka-luka.
Meski gencatan senjata diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, serangan Israel dilaporkan masih terus terjadi. Sejak gencatan senjata tersebut, sedikitnya 447 orang kembali tewas dan 1.246 lainnya terluka, menambah panjang daftar korban di wilayah yang kian rapuh menghadapi dingin dan konflik yang tak kunjung usai.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































