Trump Tunda Kenaikan Tarif Furnitur Hingga 2027, Harga Barang di AS Diharapkan Stabil

Tarif
DALLAS, TEXAS - AUGUST 06: Former U.S. President Donald Trump Foto: Brandon Bell/Getty Images

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menunda kenaikan tarif impor untuk sejumlah produk furnitur, termasuk furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan meja rias, hingga tahun 2027. Langkah ini diambil untuk meredam lonjakan harga barang di pasar domestik.

“AS terus terlibat dalam negosiasi produktif dengan mitra dagang untuk mengatasi timbal balik perdagangan dan masalah keamanan nasional sehubungan dengan impor produk kayu,” tulis lembar fakta yang ditandatangani Trump, dikutip CNN, Jumat (2/1/2026).

Baca Juga :  10 Mata Uang Terkuat Dunia 2025: Siapa yang Salip Dolar AS?

Dengan keputusan penundaan ini, tarif impor untuk barang-barang terkait tetap dipertahankan sebesar 25% untuk sementara. Sebelumnya, pemerintah AS berencana menaikkan tarif hingga 50% untuk lemari dapur dan 30% untuk furnitur berlapis kain mulai 1 Januari 2026. Kenaikan tarif tersebut dimaksudkan untuk melindungi industri kayu domestik.

Advertisement

Trump sebelumnya menyoroti Kanada, menyebut ekspor kayu dalam jumlah besar dari negara tetangga itu berpotensi mengancam keamanan nasional karena sebagian besar kayu impor AS berasal dari Kanada.

Baca Juga :  Perang Dagang Trump Hantam Boeing: Ancaman Tarif dan Tantangan Produksi

Meski demikian, kebijakan tarif yang diterapkan sejak awal 2025 ini mendapat kritik luas karena dianggap gagal menstabilkan harga. Sebelum tarif 25% diberlakukan untuk furnitur, harga telah meningkat tajam akibat bea masuk pada sebagian besar barang impor dari China dan Vietnam, dua negara pemasok utama furnitur ke AS.

Dalam pidatonya baru-baru ini, Trump menyalahkan pemerintahan Joe Biden atas inflasi dan menegaskan bahwa penundaan tarif akan membantu menurunkan biaya bagi warga Amerika Serikat.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel