
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Rusia kembali mengambil langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan energi di dalam negeri. Melalui dekrit resmi, Moskow mengumumkan perpanjangan larangan sementara ekspor bensin hingga 28 Februari 2026, seiring meningkatnya kebutuhan bahan bakar selama musim dingin.
Kebijakan ini berlaku bagi seluruh eksportir, termasuk perusahaan produsen langsung, dan mencakup semua bentuk pengiriman bensin ke luar negeri. Pemerintah menyebut langkah tersebut penting untuk memastikan stabilitas pasokan dan menahan laju kenaikan harga bahan bakar di pasar domestik, yang kerap mengalami tekanan saat permintaan energi melonjak.
Larangan ekspor ini sejatinya merupakan kelanjutan dari kebijakan serupa yang telah diterapkan sejak akhir 2025. Selain bensin, pemerintah Rusia juga memperpanjang pembatasan ekspor sejumlah bahan bakar lain, seperti diesel, bahan bakar kapal laut, dan gas minyak cair. Namun, untuk kategori tersebut, larangan hanya berlaku bagi penjual ulang, sementara produsen langsung masih diperbolehkan mengekspor dalam batas tertentu.
Keputusan yang mulai efektif pada Minggu (28/12/2025) itu diambil di tengah upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan dinamika pasar energi global. Musim dingin yang panjang kerap memicu lonjakan konsumsi bahan bakar, baik untuk transportasi maupun pemanasan, sehingga stabilitas pasokan menjadi perhatian utama.
Pembatasan ekspor bensin pertama kali diberlakukan Rusia pada Agustus 2025, menyusul serangkaian serangan drone Ukraina yang menargetkan kilang minyak dan pelabuhan energi di berbagai wilayah. Serangan tersebut sempat memicu kelangkaan dan lonjakan harga bahan bakar di sejumlah daerah, meski kondisi pasar kini berangsur stabil.
Meski demikian, harga bahan bakar di Rusia masih tergolong tinggi dan tekanan terhadap sektor energi belum sepenuhnya mereda. Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, sebelumnya telah memberi sinyal bahwa perpanjangan larangan ekspor menjadi salah satu opsi untuk mengamankan pasokan domestik di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Selain faktor energi dan keamanan, kebijakan ini juga ditujukan untuk mendukung sektor pertanian. Pemerintah berharap ketersediaan bahan bakar yang cukup dapat menjaga kelancaran distribusi serta membantu menekan harga grosir, khususnya bagi pelaku usaha kecil yang rentan terhadap fluktuasi pasokan. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































