Transportasi Perintis Jadi Urat Nadi Pemulihan di 52 Daerah Terdampak Bencana Sumatera

transportasi
Banjir bandang di Agam, Sumbar Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kebutuhan akan layanan transportasi yang mampu menjangkau wilayah terpencil kembali mencuat setelah bencana besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Pemerintah pusat didesak segera mengalokasikan anggaran melalui APBN untuk pengoperasian layanan transportasi perintis—baik untuk angkutan orang maupun barang—yang dapat bekerja sejak fase darurat, transisi, hingga pemulihan. Selain itu, perbaikan akses jalan dan jembatan menjadi prioritas yang tak dapat ditunda.

Hingga Selasa (9/12/2025) pukul 19.35 WIB, data BNPB menunjukkan skala kerusakan yang luar biasa. Sebanyak 52 pemerintah daerah di tiga provinsi terdampak, dengan 964 orang meninggal, 262 hilang, dan lebih dari 5.000 orang luka-luka.

Advertisement

Infrastruktur hunian dan fasilitas umum ikut porak-poranda: lebih dari 157.000 rumah rusak, serta lebih dari 1.200 fasilitas umum terdampak, termasuk 215 fasilitas kesehatan, 584 fasilitas pendidikan, 423 rumah ibadah, 287 gedung kantor, dan 498 bentang jembatan.

Kerugian materiil diperkirakan semakin panjang, mengingat daftar resmi belum memasukkan ratusan hingga ribuan kendaraan bermotor yang tersapu banjir. Kehilangan kendaraan umum menjadi pukulan bagi masyarakat karena fungsinya sangat vital dalam distribusi hasil bumi, mobilitas harian, hingga pemenuhan kebutuhan dasar.

Di tengah situasi itu, jaringan transportasi perintis yang telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 5958 Tahun 2024 menjadi modal awal pemulihan mobilitas. Tiga provinsi terdampak tercatat memiliki 28 trayek angkutan jalan perintis yang bisa segera diaktifkan.

Aceh memiliki sejumlah trayek penting seperti Sinabang – Sibigo (188 km), Sinabang – Alafan (278 km), Meulaboh – Woyla – Teupin Peuraho (108 km), Meulaboh – Alue Kuyun (106 km), Blang Puuk – Ujung Fatihah (168 km), Subulussalam – Longkib (60 km), Gunung Meriah – Singkil (90 km), Panton Labu – Gampong Bantayan (32 km), Sp 4 Kota Fajar – Mangamat (50 km), Pidie – Laweung (82 km), Kuala Simpang – Tenggulun (86 km), dan Gunung Meriah – Singkohor (54 km).

Baca Juga :  Bupati Bogor dan Menteri LHK Tinjau Alih Fungsi Lahan, Siapkan Langkah Korektif

Di Sumatera Utara, sembilan trayek sudah terbentuk, termasuk jaringan yang menghubungkan kawasan Pulau Nias: Gunung Sitoli – Teluk Dalam (226 km), Gunung Sitoli – Lahewa (134 km), Lahewa – Afulu (54 km), Tani Jaya – Pangkalan Brandan (74 km), Pantai Buaya – Pangkalan Brandan (60 km), Sihosar – Kabanjahe (50 km), Pematang Raya – Bah Bolon (56 km), Pematang Raya – Nagari Dolok (52 km), dan Pematang Raya – Raya Bosi (22 km).

Sementara Sumatera Barat memiliki tujuh trayek perintis yang menjangkau daerah kepulauan dan pedalaman, seperti Padang Aro – Uluh Sulti (124 km), Tapan – Indrapura – Air Haji – Balai Salasa – Kambang – Surantih – Batang Kapas – Painan (270 km), Terminal Simpang Empat – Simpang 3 Ophir – Sungai Talang – Pasar Kapar – Pasar Sasak (50 km), Terminal Simpang Empat – Ujung Gading (100 km), Pariaman – Urek Kaji – P. Kambar – Parit Malintang – Kantor Bupati Pariaman (48 km), Poltekpel Sumbar – Pasar Usang – Lubuk Alung – Parit Malintang – Kantor Bupati Pariaman (62 km), serta Tua Pejat – Sioban (90 km).

Baca Juga :  BMKG Update : Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek, Sabtu 2 November 2024

Transportasi perintis sendiri dirancang untuk melayani wilayah yang belum terjangkau angkutan komersial. Dalam kondisi bencana berskala besar, fungsi ini menjadi krusial: menjangkau desa-desa yang terisolasi, menghubungkan wilayah yang jalurnya terputus akibat kerusakan jembatan atau akses jalan, serta menjaga stabilitas suplai barang pokok di daerah pedalaman. Layanan angkutan barang perintis membantu mencegah lonjakan biaya logistik, sementara layanan angkutan orang memungkinkan warga kembali beraktivitas.

Opsi penyediaan angkutan umum gratis juga dinilai perlu dipertimbangkan. Layanan ini meliputi Angkutan Perkotaan, Angkutan Pedesaan, dan Angkutan Antar Kota untuk memulihkan mobilitas warga menuju tempat kerja, sekolah, pasar, hingga akses distribusi hasil bumi tanpa beban biaya transportasi.

Di lapangan, bus perintis dapat difungsikan sebagai angkutan sekolah sementara bagi murid-murid yang sekolahnya rusak atau yang jalur angkutan regulernya terhenti.

Layanan ini juga penting untuk memastikan warga masih bisa menjangkau fasilitas kesehatan yang tersisa. Keberadaan layanan perintis tidak hanya memulihkan konektivitas, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan memperlihatkan kehadiran negara dalam masa krisis.

Pada akhirnya, transportasi perintis bekerja sebagai “urat nadi sementara” di tengah keterisolasian yang muncul akibat bencana, menjaga roda kehidupan berjalan sembari mendorong percepatan pemulihan di 52 daerah yang terdampak paling parah.

Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata

Editor : Syafira

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel