TIMETODAY.ID, JAKARTA — Nama Zohran Kwame Mamdani kini sedang hangat diperbincangkan. Pada 4 November 2025, ia resmi mencatat sejarah sebagai wali kota ke-111 New York, sekaligus wali kota Muslim pertama dan yang termuda dalam lebih dari satu abad di kota yang tak pernah tidur itu.
Namun, perjalanan hidupnya menuju puncak politik New York ternyata dimulai jauh dari sana—di benua Afrika.
Zohran lahir pada 18 Oktober 1991 di Kampala, Uganda, dari pasangan Mahmood Mamdani, seorang profesor ternama bidang studi Afrika, dan Mira Nair, sutradara film internasional pemenang penghargaan. Sejak kecil, ia tumbuh di tengah keluarga intelektual dan seniman, tempat diskusi dan ide besar menjadi makanan sehari-hari.
Ketika berusia lima tahun, keluarga Mamdani pindah ke Cape Town, Afrika Selatan, di mana Zohran menempuh pendidikan dasar di St George’s Grammar School. Namun, dua tahun kemudian, keluarga kembali bermigrasi—kali ini ke New York, yang kemudian menjadi rumah tetapnya.
Di kota ini, Zohran menempuh pendidikan di berbagai sekolah publik dan swasta, termasuk Bank Street School for Children di Manhattan, sekolah progresif yang dikenal menanamkan nilai keadilan sosial sejak dini.
Tapi perjalanan akademisnya benar-benar menonjol saat ia masuk ke Bronx High School of Science, salah satu sekolah menengah terbaik di New York yang dikenal mencetak banyak ilmuwan, peraih Nobel, dan tokoh publik.
Di sana, Zohran menunjukkan bakat kepemimpinannya sejak dini—ia bahkan mendirikan tim kriket sekolah sebagai bentuk inisiatif memperkenalkan olahraga khas negaranya kepada teman-teman di Amerika.
Selepas SMA, Zohran melanjutkan studi ke Bowdoin College, Maine, dan meraih Bachelor’s Degree di bidang Africana Studies pada 2014. Masa kuliahnya diwarnai dengan aktivitas sosial dan politik; ia turut mendirikan Students for Justice in Palestine, sebuah kelompok mahasiswa yang mengadvokasi hak-hak warga Palestina.
Perjalanan karier politik Zohran mencerminkan perpaduan antara idealisme dan empati sosial. Sebagai anggota Partai Demokrat, ia dikenal vokal memperjuangkan isu-isu kesetaraan ekonomi, hak imigran, dan keadilan rasial.
Dan kini, kemenangan Zohran dalam Pilwalkot New York bukan sekadar soal angka suara—ia menjadi simbol perubahan generasi baru politik Amerika, yang lebih beragam, progresif, dan berakar pada nilai kemanusiaan.
Dari Kampala ke Cape Town, lalu ke New York, perjalanan hidup Zohran Kwame Mamdani adalah kisah lintas benua tentang identitas, perjuangan, dan mimpi.
Ia bukan hanya mewakili suara komunitas Muslim dan imigran, tapi juga semangat anak muda dunia yang percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari ruang-ruang kecil—termasuk lapangan kriket di sekolah menengah Bronx.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































