Bocah di Selandia Baru Jalani Operasi Setelah Telan 100 Magnet Superkuat

Selandia Baru
Gambar hasil rontgen memperlihatkan deretan magnet superkuat yang tersangkut di dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia 13 tahun.(foto: dok. Science Alert)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Apa yang awalnya tampak seperti sakit perut biasa berubah menjadi salah satu kasus medis paling tidak biasa yang pernah terjadi di Selandia Baru. Seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengeluh nyeri perut selama empat hari berturut-turut.

Saat tim dokter menelusuri penyebabnya, pengakuan sang bocah membuat mereka terkejut: seminggu sebelumnya, ia menelan sekitar 80 hingga 100 butir magnet kecil berkekuatan tinggi.

Hasil rontgen menunjukkan magnet-magnet berukuran hanya 5 x 2 milimeter itu saling menempel di dalam tubuhnya, membentuk empat deretan panjang di usus.

Advertisement

Tim medis menggambarkan kasus ini sebagai salah satu yang paling langka dan berisiko tinggi dalam kategori “benda asing di tubuh manusia.”

Operasi Besar dan Usus yang Harus Dikorbankan

Magnet jenis neodymium yang ditelan bocah itu dibelinya sendiri lewat toko daring. Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter harus melakukan operasi besar guna mengangkat semua magnet tersebut.

Sayangnya, sebagian jaringan usus harus diangkat karena sudah mengalami kerusakan. Meski begitu, delapan hari setelah operasi, bocah itu diizinkan pulang dan kini dalam masa pemulihan.

“Kasus ini menunjukkan bahwa menelan magnet kecil berkekuatan tinggi bisa sangat berbahaya dan mengancam jiwa,” kata Profesor Alex Sims dari University of Auckland, dikutip dari New Atlas, Jumat (24/10/2025).

Baca Juga :  Layanan MRT Jakarta Sempat Alami Gangguan, Penumpang Dievakuasi Lewat Jalur Layang

Ia menambahkan, “Magnet jenis ini sering dijual sebagai mainan bagi anak-anak maupun orang dewasa karena bisa dibentuk menjadi berbagai pola atau dijadikan alat pereda stres. Sayangnya, warna-warnanya yang mencolok sering menarik perhatian anak-anak untuk menelannya.”

Bukan Kasus Pertama

Meski terdengar mustahil bagi orang dewasa, kasus seperti ini ternyata bukan hal baru. Pada 2024, seorang bocah delapan tahun meninggal dunia setelah menelan sekumpulan magnet kecil berbentuk bola yang menyebabkan penyumbatan usus.

Awal 2025, seorang bocah tujuh tahun juga harus dirawat di unit gawat darurat setelah menelan magnet dari permainan meja Kluster.

Di Australia, 44 anak dilaporkan masuk rumah sakit tahun lalu karena menelan magnet. Satu butir mungkin tidak berbahaya, tetapi lebih dari satu bisa saling menarik di dalam tubuh, menjepit jaringan usus, dan menimbulkan luka serius hingga kebocoran usus.

Bahaya Ganda: Magnet dan Dunia Belanja Online

Kasus di Selandia Baru ini juga menyoroti dua lapis bahaya sekaligus: risiko medis dari magnet superkuat, dan kemudahan anak membeli barang berbahaya secara online.

Baca Juga :  Detik-detik Mobil Suzuki Ignis Terperosok ke Parit di Bogor, Damkar Turun Tangan

Jenis magnet neodymium yang ditelan remaja itu sebenarnya dilarang dijual di Selandia Baru, namun diduga kuat dibeli melalui platform e-commerce global Temu.

“Orang tua perlu memantau aktivitas belanja anak-anak di internet. Banyak tren muncul dari media sosial, dan tanpa pengawasan, anak bisa dengan mudah mendapatkan barang berbahaya seperti magnet ini,” tegas Profesor Ekant Veer dari University of Canterbury.

Magnet Superkuat yang Tak Seharusnya Jadi Mainan

Magnet neodymium dikenal sebagai magnet superkuat yang 10–20 kali lebih kuat dibanding magnet biasa. Dalam 25 tahun terakhir, magnet ini populer digunakan dalam mainan meja, aksesori, hingga perhiasan.

Namun para dokter mengingatkan: menelan satu magnet biasanya tidak berbahaya, tetapi menelan dua atau lebih—apalagi dalam waktu berbeda—dapat memicu reaksi fatal. Magnet-magnet itu bisa saling menarik di dalam tubuh, menjepit dinding usus dan merobek jaringan internal.

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa tidak semua benda yang tampak seperti mainan aman bagi anak-anak, terutama di era ketika batas antara hiburan dan bahaya bisa semudah satu klik di toko online.***

Editor : Syafira

Sumber : beritasatu.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel