
TIMETODAY.ID, BOGOR – Duka mendalam menyelimuti warga RW 07, Kelurahan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kabar wafatnya Ustaz Aji dalam kecelakaan minibus Elf di Lampung, Minggu (5/10/2025), meninggalkan luka di hati warga. Sosoknya yang dikenal aktif di kegiatan sosial dan keagamaan kini tinggal kenangan.
Di gang kecil yang mengarah ke Musala An-Nur, tempat almarhum biasa memimpin doa dan tahlil, suasana haru masih terasa. Warga datang silih berganti, sebagian menunduk, sebagian lagi meneteskan air mata setiap kali kisah tentang almarhum disebut.
“Ya, beliau itu orangnya ramah, terbuka, gampang bergaul sama siapa saja,” tutur Pauri (50), kerabat sekaligus tetangga almarhum, Senin (6/10/2025).
“Dalam bermasyarakat bagus sekali. Kami di perumahan, beliau di kampung, tapi nggak pernah ada batasan. Semua nyatu, berbaur,” ujarnya dengan suara terbata-bata.
Menurut Pauri, semasa hidupnya Ustaz Aji dikenal sebagai sosok yang tak lelah mengabdi untuk lingkungan. Ia menjabat sebagai bendahara RW 07 sekaligus pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Mushala An Nur. Dari urusan sosial hingga kegiatan keagamaan, namanya hampir selalu disebut.
“Jadi DKM dan bendahara di RW, jadi memang aktif beliau itu. Sampai orang kelurahan juga pada datang (melayat),” kata Pauri.
Ia menambahkan, kedekatan antara warga perumahan dan kampung di RW 07 terjalin erat karena kiprah almarhum yang kerap melibatkan semua kalangan dalam berbagai kegiatan.
“Justru kami bisa akrab karena beliau sering adain pengajian, tahlilan, yasinan. Semua dilibatkan. Jadi hubungan warga itu cair,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Supriati (73), tetangga dekat almarhum. Ia tak kuasa menahan haru mengenang sosok yang dianggap seperti anak sendiri.
“Orangnya sederhana, paling simple. Makanya kehilangan banget. Malam sebelum berangkat itu kami masih ngaji bareng, malam Jumat. Habis Isya baru dia berangkat,” kisahnya pelan.
Menurut Supriati, almarhun kerap menjadi imam dan memimpin doa dalam berbagai kegiatan keagamaan.
“Iya, sering mimpin tahlil di Mushala An-Nur. Kalau ada acara di masjid lain pun, biasanya yang diminta beliau. Jamaahnya banyak yang ikut,” tuturnya.
Kabar kepergian Ustaz Aji terasa semakin pilu karena almarhum sejatinya sedang dalam perjalanan pulang dari Lampung untuk menghadiri acara ngunduh mantu di Bogor. Ia bahkan direncanakan menjadi sosok yang memimpin prosesi adat dalam keluarga.
“Rencananya mau ada ngunduh mantu di sini, makanya pulang. Waktu lamaran juga dia yang nyerahin, nanti pas ngunduh mantu dia yang mau nerima. Sekarang siapa yang mau nerima,” ujar Supriati dengan mata berkaca-kaca.
Kini, kehangatan dan keteladanan almarhum tinggal dalam ingatan warga RW 07. Mushala An Nur terasa sepi tanpa suaranya memimpin doa, tanpa senyumnya menyapa jamaah selepas salat. Namun, bagi mereka yang mengenalnya, semangat kebersamaan dan keikhlasan yang ditinggalkannya akan terus menjadi teladan.
“Beliau sudah pergi, tapi kebaikannya insya Allah tetap mengalir,” ucap Pauri lirih.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































