TIMETODAY.ID, JAKARTA — Dari ruang sidang megah di New York, suara tegas Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menggemakan pesan yang jelas: Palestina adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
“Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem merupakan satu wilayah Palestina yang tidak dapat dibagi-bagi,” ujarnya pada pertemuan tingkat menteri Aliansi Global untuk Implementasi Solusi Dua Negara, yang digelar di sela Sidang Umum PBB, Rabu (24/9/2025) waktu setempat.
Pangeran Faisal tidak hanya mengulang sikap lama Saudi. Ia menekankan kembali penolakan Riyadh terhadap segala bentuk aneksasi, ekspansi permukiman, atau penggusuran paksa. Menurutnya, langkah nyata yang dibutuhkan adalah memperkuat Otoritas Palestina dan mendukung rencana Arab-Islam untuk pemulihan serta rekonstruksi di wilayah konflik.
Lebih jauh, Faisal menegaskan bahwa negaranya akan terus memainkan peran diplomatik dan kemanusiaan demi mewujudkan negara Palestina merdeka dengan perbatasan 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. “Tujuannya bukan hanya negara merdeka, tapi juga perdamaian yang adil, keamanan bersama, dan kemakmuran bagi kawasan,” katanya.
Namun, ia juga menyinggung realitas getir di lapangan.
“Realitas pendudukan terus melanggengkan genosida, kelaparan, dan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci Muslim dan Kristen,” ujar Faisal.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba meyakinkan para pemimpin Arab dan Islam. Dalam pertemuan terpisah di sela Sidang Umum PBB pada Selasa (23/9), Trump berjanji bahwa Israel tidak akan dibiarkan mencaplok Tepi Barat.
Janji itu disampaikan dalam forum yang dihadiri pemimpin dari Yordania, Turki, Indonesia, Pakistan, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Bersama Qatar, AS bahkan meluncurkan rencana perdamaian 21 poin untuk Gaza dan kawasan sekitarnya.
“Saya pikir rencana ini menjawab kekhawatiran Israel dan juga semua negara tetangga di kawasan ini. Dan kami yakin, dalam beberapa hari mendatang, akan ada semacam terobosan,” kata Steve Witkoff, utusan Trump untuk Timur Tengah, dilansir Al Arabiya.
Sementara itu, di Yerusalem, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap lantang menolak pembentukan negara Palestina. Ia bahkan berulang kali mengisyaratkan rencana perluasan kendali atas wilayah yang diduduki.
Di tengah tarik-ulur diplomasi dan janji politik itulah, suara Pangeran Faisal menegaskan kembali sikap Saudi: Palestina bukan sekadar isu regional, melainkan harga diri kemanusiaan yang harus diperjuangkan.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































